Sabtu, 06 September 2008

Musik dan Tipe Kepribadian Anda

SELERA musik dan tipe kepribadian ternyata berkaitan sangat erat. Berdasarkan suatu riset berskala dunia, musik favorit bisa jadi merupakan cermin kepribadian diri Anda.

Penelitian ilmiah tentang hubungan selera musik dengan kepribadian dilakukan Professor Adrian North dari Heriot-Watt University. Dengan melibatkan puluhan ribu orang di seluruh dunia, ia mengklaim risetnya sebagai penelitian terbesar untuk jenis riset serupa yang pernah dilakukan sebelumnya.

Kepada BBC, Jumat (5/9), North menggambarkan risetnya ini sebagai suatu hal yang mengejutkan dan signifikan. "Kami selalu menduga adanya hubungan antara selera musik dan kepribadian. Ini adalah untuk pertamakalinya bahwa kami telah berhasil menelitinya dalam detil yang nyata. Belum pernah ada satu pun yang meneliti dengan skala seperti ini sebelumnya," tegasnya.

Hasil temuan paling menarik dari riset North adalah adanya kemiripan antara penggila musik klasik dan heavy metal. "Salah satu yang paling mengejutkan adalah adanya kesamaan antara penggemar musik klasik dan heavy metal. Mereka sama-sama kreatif, tenang tetapi tidak outgoing," ungkapnya.

North juga menyatakan riset ini akan sangat berguna bagi kepentingan marketing. "Jika Anda memahami selera musik seseorang, maka Anda akan dapat mengatakan seperti pada pribadinya, siapa dan menjual apa," tambahnya.

Dalam risetnya, North meminta lebih dari 36.000 partisipan dari seluruh dunia untuk merata-ratakan 104 jenis musik. Mereka juga ditanya mengenai aspek kepribadian. Riset ini masih akan berlanjut dan Prof North, yang juga Dekan Fakultas Psikologi Heriot-Watt University, berencana melibatkan partisipan untuk ikut ambil bagian mengisi kuisioner singkat secara online.

Musik dan Tipe Kepribadian Anda :

BLUES : Percaya diri tinggi , kreatif, outgoing, gentle dan tenang
JAZZ : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing dan tenang
CLASSIC : Percaya diri tinggi, kreatif, introvert dan tenang
RAP : Percaya diri tinggi, outgoing
OPERA : Percaya diri tinggi, kreatif, gentle
COUNTRY dan WESTERN : Pekerja keras, outgoing
REGGAE : Percaya diri tinggi, kreatif, bukan pekerja keras, outgoing, gentle dan tenang
DANCE : Kreatif, outgoing, tidak gentle
INDIE : Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerja keras, tidak gentle
BOLLYWOOD : Kreatif, outgoing
ROCK/HEAVY METAL : Percaya diri rendah, kreatif, bukan pekerjakeras, tidak outgoing, gentle, tenang
POP : Percaya diri tinggi, tidak kreatif, pekerja keras, outgoing, gentle, tidak tenang
SOUL : Percaya diri tinggi, kreatif, outgoing, gentle, tenang

Pengawasan Depot Air Minum Perlu Ditingkatkan

Pengawasan ketat terhadap depot-depot yang menjual air minum isi ulang perlu ditingkatkan agar air yang dihasilkan sehat dan layak konsumsi masyarakat.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulawesi Tengah, Salman Hadiyanto, Jumat (5/9) mengimbau pengawasan kebersihan dan kesehatan produk air minum isi ulang harus peningkatkan dan dilakukan secara rutin, apalagi saat bulan Ramadhan banyak warga membeli air kemasan isi ulang yang diproduksi secara lokal.

Dikatakannya, selama Puasa hingga Lebaran banyak warga di kota Palu membeli produk air isi ulang karena tidak perlu memasak lagi. Menurutnya,bisnis penjualan air isi ulang menjadi salah satu usaha yang menarik dan dilirik masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka. Hal itu ditandai dengan semakin banyaknya usaha menjual air minum isi ulang di Kota Palu.

Untuk itulah, ia mengharapkan pemerintah khususnya Pemda setempat untuk tidak hanya mengeluarkan izin usaha untuk depot air minum. Tetapi perlu diikuti dengan sistem kontrol yang ketat terhadap produk yang dihasilkan.

Selain itu, instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, maupun Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) harus proaktif melakukan pengawasan agar air yang dijual kepada masyarakat benar-benar memenuhi standar kebersihan dan layak dikomsumsi. Melalui pengawasan itu, diharapkan para pengusaha depot air minum isi ulang benar-benar memperhatikan kelayakan air tesebut melalui uji laboratorium.

Hindari Thalasemia, Skrining Pranikah Perlu Dilakukan

Penyakit kelainan darah memerlukan biaya besar untuk mengobatinya. Padahal tidak semua penderita kelainan darah adalah orang yang mampu secara ekonomi. Deteksi dini dengan skrining perlu dilakukan terutama sebelum proses pernikahan terjadi.

Selain skrining pranikah juga perlu pendataan sehingga dapat menghindari kemungkinan lahirnya anak-anak yang menderita thalassemia, kata Prof Dr dr Iskandar Wahidiyat SpA(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /RSCM Jakarta pada pada seminar Hematologic Diseases di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu (6/9).

Thalassemia adalah kelainan darah karena kurangnya hemoglobin sehingga penderitanya harus melakukan transfusi darah sekali dalam sebulan. Akibat transfusi darah yang berulang, mereka jadi kelebihan zat besi yang bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung dan kelenjar hormon. Untuk mengeluarkan zat besi ini, mereka harus melakukan pengobatan melalui suntikan.

Menurut dr Pustika Amalia Wahidayat SpA(K) dari Divisi Hematologi-Onkologi RSCM, obat-obatan oral bagi penderita thalassemia sangat mahal. Dibutuhkan Rp 8,8 juta per bulan per anak. Dan pengobatan itu harus dilakukan seumur hidup.

Suntik pompa kelasi besi (untuk mengeluarkan besi di dalam tubuh penderita thalassemia) harus dilakukan 8-12 jam per hari, 5-7 kali seminggu. Belum ada komitmen pemerintah, padahal 5 persen populasi Indonesia merupakan carier penyakit thalassemia. Penyakit ini bisa dicegah dengan pemeriksaan prenatal, kata Pustika Amalia.

Organ penting

Darah adalah organ yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh dimana darah bekerja di dalam sistem kardiovaskuler. Selain itu, darah juga berfungsi di dalam sistem kekebalan serta hemostasis tubuh. Karena itu, berbagai jenis kelainan darah dapat mengganggu fungsi dalam tubuh, misalnya penyakit thalassemia, hemofilia, leukimia dan Idiopatik Trobositopenia Purpura.

Kini diperkirakan lebih dari 2.000 penderita thalassemia baru per tahun di Indonesia. Sampai saat ini thalassemia belum dapat disembuhkan namun diperlukan deteksi dini untuk memperpanjang usia. Thalassemia dapat dicegah dengan dilakukan screening pranikah.

Sedangkan Hemofilia, Prof Dr dr Moeslichan MZ SpA(K) mengatakan bahwa hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah. Penyakit ini diturunkan melalui kromosom X secara resesif, karena itu umumnya diidap oleh anak lelaki.

Ada dua bentuk penyakit hemofilia, yaitu hemofilia A apabila terjadi kekurangan faktor pembekuan darah FVIII dan hemofilia B apabila terdapat kekurangan faktor pembekuan darah FIX. Hemofilia A dijumpai satu di antara 10.000 penduduk, hemofilia B dijumpai satu di antara 50.000 penduduk.

Pada saat ini diperkirakan ada sekitar 350.000 penduduk dunia penderita hemofilia. Di antara mereka hanya 30 persen yang memperoleh pengobatan adekuat, sehingga mereka dapat mencapai harapan hidup yang normal.

Biaya kesehatan pengelolaan hemofilia di berbagai dunia tergolong besar. "Sekali suntik dua botol diperlukan biaya Rp 2,5 juta. Padahal suntikan harus dilakukan dua kali per minggunya," kata Moeslichan.

Ia memaparkan, pada tahun 2005 baru berhasil didaftar sebanyak 895 penderita hemofilia di Indonesia dari sekitar 20.000 penderita yang diperkirakan dari 200 juta penduduk Indonesia. Rendahnya pencatatan ini kemungkinan karena sebagian penderita tidak terdiagnosis, sehingga berakibat kematian usia dini. Di samping itu tidak menutup kemungkinan di Indonesia terdapat suatu varian yang sangat ringan sehingga luput dari diagnosis. Karena itu perlu diteliti lebih lanjut.

Terapi Oksigen Sebabkan Sesak Napas Pada Bayi

MESKI bermanfaat bagi tubuh ternyata oksigen bisa juga membahayakan bagi tubuh. Selain berpotensi menimbulkan terlepasnya elektron bebas yang reaktif atau yang dikenal dengan radikal bebas, berlebihnya oksigen dalam tubuh atau yang kerap dikenal hyperoxia (biasanya disebabkan oleh terapi oksigen) dapat menyebabkan sesak nafas pada bayi.

Demikian diungkapkan dalam Jurnal European Respiratory. Sebelumnya pernah diteliti dan ditemukan ditemukan bahwa kerapnya kejadian hiperoxia akan memengaruhi kemampuan otot dalam menyerap oksigen, terutama bagi bayi yang baru lahir hingga menyebabkan terjadinya henti napas (yang dikenal sebagai apnea).

Dr. F. Lofaso dari Rumah Sakit Raymond Poincare, Garches, Perancis dan timnya meneliti efek berulangnya hiperoxia ini dengan mengamati proses pernafasan pada bayi tikus yang kondisinya sama dengan bayi manusia yang baru lahir.

Dalam uji coba itu diketahui, berulangnya kejadian hiperoxia menyebabkan melambatnya sistem pernafasan. Lebih jauh lagi, hiperoxia dikaitkan dengan dengan meningkatnya lama serangan apnea.

Kabar baiknya, efek dari serangan apnea ini dapat hilang setelah beberapa menit menghirup udara bebas. Penemuan ini merekemondasikan bahwa ternyata butuh pengawasan yang lebih ketat bila kita ingin menggunakan terapi oksigen, terutama bila pemberian oksigen ini dilakukan secara berulang, pada masa-masa awal kelahiran bayi terutama pada bayi prematur.

“Bayi yang mendapatkan terapi oksigen harus dimonitor kadar oksigen dalam darahnya untuk mencegah meningkatnya kadar oksigen terlalu tingi ataupun terlalu rendah,” kata Lofaso.

Nestle Bagikan 54.000 Buku Pengetahuan Nutrisi

Untuk mengantisipasi anak-anak gizi kurang dan gizi buruk, pengetahuan orangtua soal nutrisi dan tumbuh-kembang anak harus ditingkatkan. Ketidakpedulian orangtua terhadap tumbuh kembang anak memicu tingginya potensi anak mengalami gizi buruk. Saat ini dilaporkan empat juta anak Indonesia penderita kurang gizi terancam merosot kondisinya ke gizi buruk jika tidak ditangani semestinya.

Pakar Gizi Nestle Indonesia Erika Wasito mengatakan hal itu, Jumat (5/9) di Jakarta, setelah Nestle Indonesia selama dua bulan terakhir membagi-bagikan buku Medutainment: Senangnya Hatiku Waktu Makan Tiba secara gratis sebanyak 50.000 eksemplar ke rumah-rumah sakit di seluruh Indonesia dan 4.000 eksemplar disebarkan di empat kota besar (Surabaya, Medan, Makassar, Medan, dan Bandung) melalui ibu-ibu gerakan PKK.

Sebelumnya, dalam seminar peluncuran Nestle Dancow Batita, ahli gizi anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan MS mengungkapkan, kondisi empat juta anak Indonesia yang mengalami gizi kurang sungguh mengkawatirkan. Hal ini disebabkan dari 250.000 posyandu, yang aktif kurang dari 50 persen. Sementara pemerintah hanya mampu menangani 39.000 anak gizi buruk per tahun.

Erika Wasito menjelaskan, jika perilaku orangtua yang tidak peduli perkembangan berat badan anak dalam tiga bulan terakhir tidak diubah, potensi anak mengalami gizi buruk mencapai 70 persen. "Kebanyakan ibu-ibu tidak memperdulikan timbangan anak. Padahal, kalau dalam dua bulan berturut-turut tidak mengalami kenaikan berat badan, harus segera dicurigai mengalami gizi buruk, " ujarnya.

Agar ibu-ibu atau orangtua punya pengetahuan soal nutrisi, Nestle Indonesia melalui program Nestle Cerelac Turut Cerdaskan Para Ibu dan Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup Buah Hati Indonesia, membagi-bagikan buku Medutainment: Senangnya Hatiku Waktu Makan Tiba, dengan harapan dapat mendorong para ibu mengembangkan ide-ide kreatif bagi buah hati masing-masing dalam mendorong dua hal yang paling penting dalam tumbuh kembang anak, yaitu nutrisi dan simulasi.

Dalam buku itu antara lain diungkapkan, di awal penyapihan (usia 6 bulan) kebutuhan 70-80 persen nutrisi bayi dipenuhi dari Air Susu Ibu (ASI), dan sisanya 20-30 persen dari makanan padat.

Seiring bertambahnya usia, perbandingan bergeser hingga usia 1 tahun, di mana ASI memenuhi 20-40 persen kebutuhan, dan 60-80 persen dipenuhi dari makanan padat.

Saat usia 24 bulan, kebutuhan dipenuhi dari makanan keluarga. Perubahan makanan padat terjadi dalam hal tekstur (halus hingga kasar), kondistensi (lunak hingga padat), porsi dan frekuensinya sesuai dengan kemampuan dan perkembangan buah hati.

Setiap anak, lanjut Erika, memiliki keunikan dalam kecepatan dan pencapaian tumbuh kembangnya. Pada saat makan, si buah hati idealnya bukan hanya memperoleh asupan berbagai nutrisi untuk pertumbuhan fisiknya, tetapi juga menerima berbagai stimulasi yang mampu merangsang perkembangan mental dan intelektualnya.

"Yang utama bagaimana orangtua dapat membuat waktu makan menjadi saat yang istimewa dan menyenangkan untuk si kecil, sehingga ia bisa menjadi anak yang sehat, cerdas, dan selalu ceria," katanya.

Dalam konsep Medutainment, makan harus menjadi momentum entertainment bagi sang anak maupun ibu. sehingga saat makan adalah saat berinteraksi yang penuh keceriaan bersama buah hati.

Selain membagi-bagikan buku pengetahuan soal nutrisi secara gratis, Nestle Cerelac bekerjasama dengan sejumlah pasar swalayan, juga menggelar Meduatainment Zone. Medutainment Zone merupakan acara bagi para orangtua dalam memperoleh informasi dan tips seputar tumbuh-kembang anak yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan, melalui tiga zona, yaitu Meal Zone (dapur ibu cemerlang dan info saji nutrisi), Education Zone (talkshow dan pelatihan, games tumbuh kembang), dan Entertainment (bingkai cinta cemerlang, mucic corner, kids play ground).

Usia Di Atas 40 pun Bisa Lasik

DALAM waktu 1 dekade keberadaannya, fenomena bedah Lasik cukup menarik perhatian di berbagai negara dunia, salah satunya Singapura, yang jumlah penderita rabunnya cukup tinggi. Tak heran bila di negeri ini ada banyak permintaan operasi LASIK.

Meski informasi dan iklan perihal LASIK sudah banyak beredar beredar, masih ada masyarakat bahkan dokter mata yang belum mengetahui benar tentang LASIK. Banyak kesalahapahaman, mitos dan keraguan yang muncul. Kebingungan yang biasanya muncul seputar keuntungan LASIK dan proses bedah refraktif itu sendiri.

Apakah yang dimaksud dengan LASIK laser, tanpa pisau?
Tipe bedah LASIK seperti ini menggunakan jenis laser femtosecond untuk membuka kornea. Dengan menggunakan mikro keratom mekanikal, komplikasi yang terjadi saat pembukaan kornea sangat kecil. Bukaan kornea yang terlalu kecil dan tidak beraturan akan menyulitkan proses tahap kedua LASIK untuk dilaksanakan.

Maka hadirlah, teknik terbaru menggunakan laser femtosecond. Kecil, dengan detak infra red yang pendek sehingga memungkinkan keakuratan di dalam kornea. Dengan hadirnya laser berjenis unik ini, bukaan pada kornea menjadi semakin mulus dna tidak berbekas pada saat sembuh nanti. Semakin baiknya pembuatan bukaan ini, maka semakin baik pula pandangan mata yang dihasilkan.

Bisakah usia di atas 40 tahun melakukan LASIK?
Mereka yang memiliki mata rabun pada usia 40an dan perlu menggunakan kacamata untuk membaca, bisa jadi akan diminta untuk tetap menggunakan kacamata setelah operasi LASIK. Meskipun hingga kini belum ada metode yang tidak mengharuskan pasien usia 40an menggunakan kacamata lagi, kondisi ini bisa dikurangi dengan serangkaian prosedur LASIK lainnya yang dikenal dengan "slight monovision".

Prosedur ini, yang sama persis dengan prosedur LASIK untuk memperbaiki pandangan jauh, dilakukan pada mata dominan agar dapat melihat jauh, sementara mata yang tidak dominan, akan tetap perlu menggunakan kacamata baca. Hal ini memberikan efek yang sama ketika pasien menggunakan bifocal.

Sebagian besar pasien memilih prosedur ini karena dapat membantu pandangan jauh mereka, namun sebagin lainnya merasa sulit membiasakan diri dengan kondisi sepasang mata yang berbada-beda. Hal ini bisa dilakukan beberapa hari setelah operasi di mana pasien dapat menggunakan lensa kontak pada mata yang tidak dominan.

Perlu diketahui, selama 20 tahun, Singapore National Eye Center (SNEC) telah menangani berbagai masalah kesehatan mata baik untuk pasien dari Singapura ataupun pasien dari negara lain. Mulai dari katarak hingga penyakit kornea dan retina lainnya yang dapat membutakan. Hal ini telah menjadikan SNEC sebagai rumahsakit mata yang berkembang pesat dengan standar kelas dunia. Kini SNEC menangani 250.000 pasien rawat jalan, termasuk 16.000 pasien asing dan melakukan 14.000 bedah besar pada mata dan 13.000 bedah laser setiap tahunnya.

LASIK : Bye bye Kacamata!

MESKI kelihatannya keren, menggunakan kacamata juga lensa kontak kerapkali membuat kita tidak nyaman dan bebas. Kacamata bahkan bisa jadi memperburuk penampilan kita.Sekarang, Anda tak perlu khawatir dengan persoalan ini.

LASIK atau laser in-situ keratomileusis, merupakan jenis prosedur bedah yang menjadi sebuah fenomena jaman ini, karena dapat memperbaiki mata bermasalah seperti rabuh jauh, rabun dekat serta kelainan mata lainnya dalam waktu singkat. Tak heran bila prosedur ini makin diminati karena aman, efektif, cepat sembuh dan rendahnya tingkat kerisihan.

Artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai LASIK dan apa saja prinsip dasarnya. Tentunya agar masyarakat tidak lagi ragu dan mengetahui dengan benar apa itu LASIK dan seperti apa prosedurnya.

Apakah LASIK itu?
LASIK muncul dari pengembangan berbagai teknik bedah refraktif. Intinya, ada 2 tahap proses LASIK. Pertama, membuat bukaan kecil tipis pada kornea dan yang kedua adalah tahap merancang ulang kornea dengan membuang sebuah jaringan di kornea menggunakan laser. Bukaan kornea kemudian ditutup kembali dan direkatkan hingga proses penyembuhan selesai.

Pengerjaan dasar dari menciptakan bukaan LASIK pada kornea diawali pada tahun 1950-an, ketika ditemukannya microkeratome, sebuah pisau metal mekanikal yang digunakan untuk membuka kornea. Selama bertahun-tahun, microkeratome terus disempurnakan hingga kini, proses pembukaan kornea menjadi aman dan nyaman.

Penemuan teknologi kedua untuk LASIK muncul pada tahun 1980 dimana ditemukan laser ultraviolet yang dapat menggores suatu jaringan secara tepat tanpa merusak jaringan lain di sekitarnya. Dua tahun kemudian, potensi dan fungsi dari laser ini dalam bidang bedah diumumkan.

Bagaimana Cara Kerja LASIK?
Kornea memegang peranan penting dalam LASIK karena kornea memegang hampir seluruhnya kekuatan pembiasan pada mata, dimana sumber kekuatan mata yang lain datang dari lensa kristal jernih mata yang alami. Oleh karena itu, memodifikasi bentuk kornea juga berarti merubah status pembiasan pada mata. Inilah prinsip dasar dibalik operasi LASIK serta pembedahan refratif lain pada kornea.

Untuk mengobati rabun jauh (myopia), bagian tengah kornea digepengkan untuk mengurangi kemampuan pembiasan kornea. Untuk mengobati rabun dekat (hyperopia), bagian kornea dipertajam untuk meningkatkan kemampuan pembiasannya. Untuk mengobati kelainan mata seperti pandangan yang tidak jelas (astigmatism), lekukan kornea yang berjarak 90 derajat dari porosnya dibuat sama dan seimbang.