Kamis, 10 Juli 2008

KB pun Butuh Teknologi Informasi

Untuk menjawab tantangan zaman dan mempercepat pencapaian target program Keluarga Berencana, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/BKKBN mulai menggunakan teknologi informasi dan komunikasi/ICT.

"Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan program KB di era desentralisasi sekarang ini adalah terhambatnya jalur komunikasi antara pusat dengan petugas di lini lapangan, padahal ujung tombak program KB berada di tangan petugas lapangan tersebut," kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief saat Seminar Information Communication Technology/ICT Update Pengembangan dan Implementasi ICT pada Program KB Nasional di Jakarta, Rabu (9/7).

Sekarang ini menurut Sugiri Syarief, jalur komunikasi dari lini lapangan ke pusat dan sebaliknya terasa begitu lambat. Oleh karena itu salah satu upaya untuk memperpendek waktu tempuh penyebarluasan data dan informasi adalah melalui pendayagunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi.

Sugiri Syarief pun mencanangkan tanggal 9 Juli 2008 sebagai tonggak sejarah Revolusi budaya kerja berbasis Teknologi Informasi dalam manajemen Program KB Nasional .

Revolusi budaya kerja dalam organisasi yang dimaksud di sini antara lain adalah perubahan perilaku dari sesuatu yang sifatnya manual dan paper based menjadi sesuatu yang bersifat elektronik. Sebagai contoh, sub sistem Pencatatan dan Pelaporan yang selama ini dikembangkan masih menggunakan formulir-formulir yang harus dibuat rekapitulasinya pada setiap tingkatan wilayah.

Bisa dibayangkan betapa panjangnya proses yang harus dilalui, padahal di lain pihak ada teknologi yang dapat membantu kita untuk melakukan rekapitulasi pada masing-masing tingkat wilayah, jadi kita cukup memasukkan data dari tingkat yang paling rendah langsung ke pusat kemudian didistribusikan kembali melalui jaring internet, kata Sugiri Syarief.

Dengan cara ini diharapkan pencapaian program KB dapat diikuti secara cepat sehingga apabila terjadi kekeliruan dapat diketahui secara cepat kemudian dilakukan penyesuaian dengan cepat pula.

Kesehatan Terkait Erat dengan Ketahanan Nasional

Kesehatan fisik suatu bangsa sangat terkait erat dengan ketahanan nasionalnya. Oleh karena itu Departemen Kesehatan dan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat/TNI-AD menjalin kerjasama terkait dengan ketahanan nasional.

"Perang di masa mendatang bisa jadi tidak lagi menggunakan misil, tetapi bisa saja menggunakan senjata biologis yang berasal dari data biologis," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari seusai penandatangan Kesepakatan kerja sama bidang kesehatan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo di Jakarta, Kamis (10/7).

Kesepakatan kerja sama ini merupakan lanjutan kesepakatan terakhir yang ditandatangani pada tahun 1999 dan berakhir pada 2004 lalu. Kerja sama melingkupi penyediaan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, penanggulangan bencana massal, kegiatan bakti sosial, penyediaan obat dan alat kesehatan sesuai kebutuhan, pemenuhan tenaga kesehatan di sarana pelayanan dan penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, penelitian, dan pengembangan ilmu peng etahuan dan teknologi di bidang kesehatan.

Pelayanan kesehatan mencakup pula pelayanan di daerah konflik, terpencil, kepulauan dan terasing. Selain itu Depkes dan TNI-AD bekerjasama untuk penyehatan lingkungan, kesehatan matra darat, serta pemberantasan dan penanggulangan penyakit.

"Kesehatan para prajurit TNI itu siapa yang memikirkan mereka? Kalau mereka dimasukkan ke program Jamkesmas, mereka bukan orang miskin, tetapi anggota TNI yang berpangkat prajurit. Kami meminta masukan dari TNI-AD, apa perlu kami dirikan Pos Kesehatan Prajurit?" kata Menkes.

Selain itu, Menkes menegaskan bahwa kerjasama dengan TNI-AD ini memang perlu karena sekarang ini ada beberapa penyakit yang perlu sudut pandang yang tidak sama dengan dulu.

"Indonesia ini negara strategis dan kaya raya yang bisa menjadi sasaran negara lain yang ingin memanfaatkan negara kita, karena itu kerjasama dengan TNI-AD sangat perlu," tutur Menkes.

Menurut Menkes, Indonesia belajar dari keberadaan NAMRU-2 yang berada di bawah Angkatan Laut Amerika Serikat. NAMRU-2 ada di Jakarta itu menunjukkan upaya ketahanan nasional suatu bangsa, dalam hal ini Amerika Serikat. "Ini bisa jadi cermin untuk Depkes dan TNI-AD bekerjasama," kata Menkes.

Masturbasi Bikin Disfungsi Ereksi?

T. Apakah sering masturbasi dapat menyebabkan disfungsi ereksi? Saya masturbasi setidaknya sekali atau dua kali dalam sehari. Biasanya, saya dapat bertahan melakukannya selama 3-5 menit. Kini, saya berejakulasi hanya dalam 20 detik. Saya takut itu akan mempengaruhi kehidupan seks saya di masa depan. Haruskah saya berhenti bermasturbasi?

J. Banyak penyebab terjadinya disfungsi ereksi, termasuk masalah pikiran, sistem sirkulasi dan sistem saraf. Kalau Anda dalam kondisi fit dan sehat, masturbasi 1-2 kali sehari tidak memberi pengaruh buruk, bahkan itu merupakan penyaluran stres yang baik.

Semakin sering masturbasi, semakin lama Anda bisa menahan ereksi, oleh karena itu diperlukan variasi dalam menstimulasi. Mungkin saja Anda perlu melakukan stimulasi baru, sehingga berejakulasi lebih cepat.

Jika Anda merasa terlalu sering masturbasi, cobalah alihkan perhatian dengan dengan berolahraga atau hobi lainnya. Sekali atau dua kali masturbasi seharusnya tidak mempengaruhi aktivitas seksual tapi perlu dilakukan penyesuaian. Cobalah dengar apa kata tubuh Anda dan ciptakan keseimbangan.

Vagina Kering Bikin Lecet Penis Suami

T. Vagina saya sangat kering dan kadang menyebabkan lecet pada penis suami saya. Apa yang harus saya lakukan?

J. Tergantung dari penyebab kekeringan tersebut. Vagina kering dapat merupakan gejala datangnya menopause jika kamu berumur 40-an hingga 50-an. Juga terdapat kemungkinan menopause dini jika Anda berusia lebih muda dari itu. Kekeringan vagina juga dapat disebabkan kurangnya rangsangan atau stimulan sebelum melakukan hubungan, jadi sebaiknya lakukan ‘foreplay’ sebelum memulai seks. Banyak kasus kekeringan disebabkan oleh hormon dan kurangnya lubrikasi, bila itu adalah penyebabnya, maka ini bukanlah masalah yang sulit. Periksakan ke dokter kondisi kulit penis suami Anda. Jangan diabaikan karena bisa menimbulkan rasa sakit, bernanah atau luka.

Awas, Makin Banyak Orang Sakit Jiwa!

JUMLAH penderita gangguan jiwa di daerah perkotaan terus meningkat seiring dengan makin beratnya tekanan hidup, baik secara ekonomi maupun sosial seiring dengan menaiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis dan perilaku sehingga menurunkan produktivitas mereka dan menghambat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.

"BBM itu faktor dominonya kemana-mana. Harga-harga makin naik, sehingga banyak orang depresi," kata Sekretaris Rumah Sakit Jiwa/RSJ Menur Provinsi Jawa Timur dr Hendro Riyanto yang sedang berada di Jakarta, Rabu (9/7).

Di RSJ Menur menurut Kepala Sub Bidang Rekam Medik dan Informasi Bambang Nuji, jumlah pasien rawat inap di RSJ mengalami peningkatan terutama pada bulan Mei 2008 yakni mencapai 200 pasien. Ini adalah angka tertinggi selama satu semester 2008 untuk pasien rawat inap. Januari 2008 sebanyak 182 pasien, Februari 2008 158 pasien, Maret 2008 179 pasien, April 2008 188 pasien, Mei 2008 200 pasien dan Juni 2008 165 pasien.

Sedangkan untuk pasien rawat jalan di bulan Januari 2008 sebanyak 2.151 kunjungan, Februari 2008 1.923 kunjungan, Maret 2008 1.958 kunjungan, April 2008 1.152 kunjungan, Mei 2008 2.121 kunjungan, Juni 2008 2.141 kunjungan.

"Total pasien rawat inap Januari-Juni 2008 sebanyak 1.072, dan pasien rawat jalan Januari-Juni 2008 ada 12.445 kunjungan," kata Bambang Nuji. Hendro Riyanto mengatakan, menaiknya jumlah pasien di RSJ juga akibat penggunaan kartu Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin, sehingga mereka bisa berobat gratis.

"90 persen pasien yang menderita gangguan jiwa ini adalah orang miskin, dan 70 persen di antaranya disebabkan karena masalah ekonomi, seperti menganggur, korban Pemutusan Hubungan Kerja/PHK sehingga keluarganya terlantar dan dia terganggu jiwanya," kata Hendro Riyanto

Selain itu, persoalan yang kini terjadi di Surabaya adalah makin banyaknya gelandangan psikotik yang berkeliaran di kota Surabaya karena tidak diurus keluarga mereka. Mereka ini ditampung di Dinas Sosial. Jumlahnya ada 600 orang. Kalau kondisinya parah, baru mereka dibawa ke RSJ Menur untuk berobat, kata Hendro Riyanto.

Untuk itu, dr Fidiansyah SpKJ, Wakil Direktur Medik Rumah Sakit Jiwa Soeharto Herdjan Jakarta, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (9/7), menyatakan pemerintah seharusnya meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. Hal ini bisa ditempuh dengan menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu kesehatan dasar yang harus diberikan di setiap pusat kesehatan masyarakat.

Saat ini, jumlah penderita gangguan jiwa ringan dan sedang sangat banyak di kalangan masyarakat. Diperkirakan, 20-30 persen dari total populasi penduduk di perkotaan mengalami gangguan jiwa ringan dan berat. Selain itu, sekitar satu persen dari total jumlah penduduk mengalami gangguan jiwa berat sehingga harus mendapat pengobatan di rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan jiwa lain.

Sayangnya, sampai saat ini jumlah penderita gangguan jiwa yang telah mendapat pengobatan masih sangat terbatas. Untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan jiwa, kami mengadakan mobil keliling pelayanan kesehatan jiwa yang mengunjungi puskesmas-puskesmas di Jakarta. Selain mendeteksi warga yang mengalami gangguan jiwa, mobil keliling ini juga untuk mempermudah pasien yang sudah selesai dirawat di rumah sakit jiwa untuk kontrol secara teratur, ujarnya.

Penderita gangguan jiwa harus kontrol secara teratur untuk mengatasi gangguan neurotransmiter di dalam tubuhnya. Jika tidak berobat secara teratur dengan dosis yang sangat kecil, maka penderita bisa mengalami kekambuhan. Penderita gangguan jiwa itu seperti penyakit lain yang membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. "Kondisi kesehatan jiwanya harus terus dikontrol agar bisa beraktivitas sehari-hari secara normal," kata Fidiansyah.

Penyebab gangguan kejiwaan itu multifaktor, bukan hanya karena tekanan ekonomi, ujarnya menambahkan. Jika penderita gangguan jiwa ringan dan berat tidak segera ditangani, maka gejalanya akan bertambah berat dan bisa mengakibatkan munculnya perilaku anarkhis dalam menghadapi persoalan pribadi dan sosial. Hal ini bisa dilihat dalam sejumlah kerusuhan yang dilakukan sekelompok masyarakat.

Telat Kenal Susu Sapi Bikin Alergi?

KEPUTUSAN menunda pengenalan susu sapi sebagai asupan tambahan pada bayi ternyata meningkatkan risiko mengidap alergi pada anak dalam masa dua tahun pertama kehidupannya, demikian klaim sebuah penelitian terbaru di Belanda.

Dr. Bianca E. P. Snijders, peneliti dari Maastricht University, seperti dilansir Reuters, Rabu (9/7) menyatakan bahwa salah satu strategi yang sering direkomendasikan secara luas dalam mencegah alergi adalah menunda pengenalan susu sapi atau pun makanan cair pada bayi. Akan tetapi, faktanya saat ini belum banyak bukti ilmiah yang mendukung rekomendasi tersebut.

Beserta timnya, Dr. Snijders menyelidiki sejauh mana efek penundaan asupan susu sapi ini terhadap bayi. Mereka pun lalu menganalisa data penelitian dari 2.558 bayi. Para ibu dari bayi ini juga memberi informasi tentang kesehatan mereka pada akhir masa kehamilan dan pada usia 3, 7, 12, dan 24 bulan setelah melahirkan. Informasi itu diantaranya termasuk jenis makanan yang dikonsumsi serta gejala alergi yang mereka alami. Selain itu, para bayi juga menjalani tes dan pemeriksaan gejala alergi pada 2 tahun pertama.

Hasil tes menunjukkan bahwa penundaan untuk memperkenalkan susu sapi di atas usia 9 bulan secara signifikan dapat meningkatkan risiko bayi mengidap eczema, kelainan kulit kronis yang ditandai adanya lapisan kering dan gatal pada permukaan kulit.

Penundaan masa pengenalan makanan lain pada bayi melebihi waktu 7 bulan juga ditandai dengan hadirnya peningkatan risiko eczema, atopic dermatitis serta bersin-bersin. "Setelah mencoret para bayi yang dari awalnya menunjukkan gejala awal eczema dan bersin-bersin pun tidak mengubah hasil penelitian,” ungkap Snijders dan timnya yang membuat tulisannya dalam jurnal Pediatrics.

“Meski pemberian ASI tetap menjadi prioritas utama dan secara medis terbukti menguntungan bagi kesehatan bayi, pentingnya untuk perkenalan makanan lain pada bayi untuk mencegah alergi jelas sangat meragukan ”

Walau begitu, Snijders menekan, bila didasarkan atas pengetahuan yang ada saat ini “Mungkin sangat terlalu dini untuk mengubah panduan tentang pengenalan susu sapi pada bayi,” ujarnya.

Rokok Gerbang Menuju Tumor Paru

Merokok adalah faktor risiko utama yang menyebabkan tumor paru-paru. Lebih dari 80 persen tumor paru-paru di seluruh dunia terjadi karena kebiasaan merokok.

TUMOR paru adalah salah satu jenis tumor yang sulit disembuhkan. Sesuai namanya, tumor paru tumbuh di organ paru-paru. Tumor ini diakibatkan oleh sel yang membelah dan tumbuh tak terkendali pada organ paru. Tumor paru jika dibiarkan dapat berkembang menjadi kanker paru.

Biasanya tumor ini berkembang di saluran napas atau bagian alveolus. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan tumor ini menyebar ke seluruh tubuh jika sudah menjadi kanker paru stadium akut.

Setiap tahun, terdapat lebih dari 1,3 juta kasus kanker paru di seluruh dunia dengan angka kematian 1,1 juta setiap tahunnya. Di Eropa, diperkirakan ada 381.500 kasus kanker paru pada 2004, dengan angka kematian 342.000 atau 936 kematian setiap hari.

Menurut Prof Dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K), FCCP, ahli paru dari Rumah Sakit Persahabatan, tumor paru ganas yang dapat berubah menjadi kanker dibagi menjadi dua bagian besar. Pembagiannya adalah tumor paru sel kecil dan tumor paru bukan sel kecil. Membedakan dua jenis tumor ini penting dilakukan untuk mendapatkan pengobatan optimal.

Tumor paru sel kecil jarang terjadi, tapi sifanya sangat cepat menyebar. Namun keuntungannya, sel yang cepat membelah itu biasanya sensitif terhadap sinar. Karenanya, pengobatan tumor jenis ini dapat dilakukan dengan penyinaran radioterapi. Meski demikian, tumor jenis ini juga cepat menyerang kembali.

Tumor bukan sel kecil merupakan jenis tumor yang berpotensi menyebabkan kanker paru. Lebih dari 80 persen dari semua kanker paru diawali dari tumor paru bukan sel kecil ini. Terdapat tiga tipe dari tumor paru bukan sel kecil ini, yaitu adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar.

Pada tumor paru bukan sel kecil ini derajatnya dibagi berdasarkan TNM, di mana T menujukan ukuran besarnya tumor, N keterlibatan dari kelenjar limfe tubuh, dan M melihat adanya metastase (penyebaran) tumor ke bagian tubuh yang lain.

Ahli medis tidak selalu bisa menjelaskan mengapa ada orang yang mengidap tumor paru-paru, sedangkan orang lain terhindar dari penyakit itu. Namun, orang dengan faktor risiko tertentu lebih besar kemungkinannya terkena tumor paru-paru.
“Risiko terkena tumor paru lebih besar jika orang tersebut adalah kaum pria, usia di atas 40 tahun dan punya kebiasaan merokok yang lama,” ucap Prof Faisal yang juga Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini.

Merokok adalah faktor risiko utama yang menyebabkan tumor paru-paru. Lebih dari 80 persen tumor paru-paru di seluruh dunia terjadi karena kebiasaan merokok. Bahan-bahan berbahaya di dalam rokok bisa merusak sel paru-paru. Seiring berjalannya waktu, sel-sel yang rusak ini bisa berubah menjadi tumor, bahkan menjadi kanker. Itulah sebabnya mengapa mengisap rokok, pipa, atau cerutu bisa menyebabkan kanker paru-paru.

Selain itu, perokok pasif atau terpapar asap rokok juga bisa menyebabkan tumor paru-paru pada orang bukan perokok atau perokok pasif. Semakin sering seseorang terpapar asap rokok, semakin besar risikonya terkena tumor paru-paru.

Faktor risiko lain untuk tumor paru-paru, antara lain jika seseorang banyak mengirup zat seperti radon (sebuah gas radioaktif), asbestos, arsenik, krom, nikel, dan polusi udara. Orang dengan riwayat keluarga mengidap tumor paru juga memiliki tingkat risiko yang lebih besar. Orang yang pernah mengidap tumor paru punya risiko yang lebih besar untuk mengidap tumor paru yang kedua.

Gejala
Gejala dari tumor paru bervariasi. Bahkan, jika ukurannya masih kecil, tumor ini tidak menimbulkan gejala. “Ini karena oragan paru itu tidak mempunyai saraf sakit. Jadi walau ada tumor tidak terasa sakit. Saraf sakit ada di bagian plura, selaput tipis yang melapisi paru dan dinding dada. Jika tumor sudah mencapai bagian plura, barulah terasa nyerinya,” papar Prof Faisal.

Gejala yang terjadi jika tumor sudah membesar, antara lain batuk, bahkan bisa batuk darah jika tumor sudah mengenai pembuluh darah. Gejala lainnya, sesak napas dan nyeri dada. Ada juga gejala di luar faktor pernapasan, antara lain nafsu makan berkurang hingga berat badan turun drastis, lemas, dan cepat lelah. Gejala ini mirip dengan TBC, tidak jarang orang keliru menyangka tumor paru sebagai TBC. Cara diagnosis yang tepat akan menentukan penyakit tersebut, apakah TBC atau tumor paru. “Agar pasti dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT Scan,” kata Prof Faisal.

Tumor paru merupakan jenis tumor yang paling sulit diobati. Penderita tumor paru bisa dikatakan hampir pasti akan meninggal karena belum ada pengobatan yang tuntas. Kesempatan bertahan pasien tumor paru kurang dari lima tahun. Jarang ada pasien yang bertahan lebih dari lima tahun dengan tumor paru ganas.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada harapan sama sekali. Saat ini tersedia beberapa pilihan untuk pengobatan tumor paru pada masing-masing tingkatan. Keputusan pilihan pengobatan sebaiknya dibuat oleh kedua belah pihak, yakni pasien dan dokter yang merawat. Dokter juga harus menjelaskan mengapa suatu pilihan terapi ditawarkan kepada pasien dan keluarganya. Selain itu perlu dijelaskan juga kelebihan dan kekurangan dari pilihan terapi yang akan dijalani, termasuk besarnya kebutuhan biayanya.

Pengobatan tergantung pada jenis sel tumor, perjalanan penyakit, tampilan umum penderita, dan tentunya dengan mempertimbangkan aspek keuangan penderita. Pengobatan yang paling sering dilakukan adalah pembedahan. Pada tindakan bedah, bagian paru yang terkena tumor dibuang. Daerah sekitar bagian yang terkena tumor juga akan dibuang sepanjang 0.5 cm untuk mewaspadai andaikata tumor sudah menyebar.

Pasien dapat dioperasi jika stadium tumornya masih dibawah stadium 3. Jika lebih dari stadium 3, biasanya pasien akan diberi kemoterapi atau radioterapi agar tumornya mengecil dulu. Setelah itu baru dioperasi. Yang perlu diingat, tindakan operasi tidak bisa dilakukan jika tumor sudah menyebar.

Pencegahan
Tumor paru dapat dicegah atau dikurangi faktor risikonya dengan tiga cara, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dapat dilakukan dengan mencegah seseorang menjadi perokok. Pencegahan sekunder adalah penghentian perokok aktif. Sementara itu, pencegahan tersier dengan menemukan penderita kanker paru stadium dini.

Selain itu dapat juga dengan banyak mengkonsumsi makanan antioksidan seperti jeruk atau wortel, yang mengandung beta karoten yang berkhasiat untuk mencegah kanker.