Selasa, 01 Juli 2008

Junk Food Membahayakan Bayi

MENGONSUMSI makanan tak sehat seperti junk food selama masa hamil atau menyusui tidak hanya berpotensi merugikan kesehatan ibu. Suatu riset terhadap binatang mengindikasikan, konsumsi makanan tak sehat selama hamil dan menyusui juga dapat menimbulkan kerugian jangka panjang pada bayi.

Hasil penelitian para ahli dari Royal Veterinary College dan London's Wellcome Trust menunjukkan, keturunan tikus yang diberi makanan olahan berlemak ternyata mengalami penumpukan lemak pada pembuluh darah dan organ-organ penting lainnya, bahkan hingga mereka menginjak dewasa. Alhasil, tikus ini memiliki risiko tinggi mengidap diabetes, bahkan kalau mereka diberi diet yang sehat.

Sejumlah riset sebelumnya oleh tim yang sama juga menunjukkan bahwa tikus lahir dari ibu yang diberi junk food selama hamil dan menyusui cenderung ketagihan jenis makanan yang sama. Namun begitu, perkembangan barunya adalah ketika mereka lepas dari diet tak sehat, kerusakan sudah kadung terjadi.

"Tampaknya kebiasan diet ibu selama hamil dan menyusui sangat penting bagi kesehatan anak untuk jangka panjang. Kami selalu mengatakan 'You are what you eat', namun pada faktanya mungkin ada benarnya bahwa Anda sekarang ini adalah apa yang Ibu Anda makan," ungkap pimpinan riset, Dr Stephanie Bayol yang mempublikasikan temuannya dalam Journal of Physiology.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah lemak yang terkumpul dalam organ-organ penting, yang tentunya berimplikasi pada perkembangan penyakit diabetes tipe II. Tikus-tikus yang lahir dari ibu yang tak sehat cenderung mengalami hal ini, meskipun mereka terbebas dari kebiasaan mengonsumi junk food.

Temuan lain yang menarik adalah adanya perbedaan dalam hal jenis kelamin, di mana tikus jantan dari keturunan ibu yang tak sehat memiliki kadar insulin yang lebih tinggi dan kadar gula darah normal. Sedangkan kebalikannya terjadi pada tikus betina, yang juga cenderung lebih gemuk.

Professor Neil Stickland, salah seorang peneliti lain, menyatakan bahwa prinsip yang sama mungkin juga bisa berlaku pada manusia.

"Manusia dan tikus memiliki sejumlah sistem biologis fundamental yang sama, oleh karena itu ada alasan yang baik untuk mengasumsikan bahwa dampak yang kita lihat pada tikus mungkin akan terjadi pada manusia," tegasnya.

Ia juga mengatakan bahwa sejumlah riset lain pada manusia telah menemukan adanya hubungan antara berat badan orang tua dengan berat badan anak-anaknya.

Anda Disfungsi Ereksi?

DISFUNGSI EREKSI (DE) menurut Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., pakar andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali, adalah ketidakmampuan mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual dengan baik. Bisa saja seseorang mampu ereksi, tetapi ketika melakukan penetrasi, ereksinya hilang.

Ketidakmampuan tersebut bersifat menetap, paling tidak dalam waktu tiga bulan. Jika gangguan ereksi hanya terjadi satu atau dua kali, apalagi tidak dalam rentang waktu yang panjang, gangguan tersebut tidak termasuk disfungsi ereksi.

Di seluruh dunia, kata Dr John Dean, Sekretaris Jenderal Masyarakat Kesehatan Seksual Eropa, 16 persen laki-laki berusia 20-75 tahun mengalami gangguan ereksi. Itu berarti sekitar 152 juta laki-laki mengalami gangguan ereksi. “Diprediksi prevalensi itu meningkat menjadi 322 juta orang di tahun 2025,” ujar Dean.

Ada cara sederhana untuk memastikan apakah seseorang mengalami DE, yaitu dengan menjawab lima pertanyaan berikut ini, yang sebetulnya merupakan petikan dari 15 pertanyaan dalam International Index of Erectile Function (IIEF).

Bila Anda ingin mengetahui apakah fungsi ereksi Anda atau pasangan Anda normal atau tidak, jawablah kuesioner di bawah ini. Pilih salah satu jawaban dan tuliskan angkanya di dalam kurung.

Selama tiga bulan terakhir:
1. Seberapa sering Anda mencapai ereksi selama melakukan aktivitas seksual?
[ ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[ ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[ ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[ ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[ ] 5. Hampir selalu atau selalu

2. Ketika Anda mengalami ereksi setelah menerima rangsangan seksual, seberapa sering penis Anda cukup keras untuk dapat masuk ke dalam vagina pasangan Anda?
[ ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[ ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[ ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[ ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[ ] 5. Hampir selalu atau selalu

3. Ketika Anda melakukan hubungan seksual, seberapa sering penis Anda dapat masuk ke dalam vagina pasangan?
[ ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[ ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[ ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[ ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[ ] 5. Hampir selalu atau selalu

4. Selama melakukan hubungan seksual, seberapa sering Anda dapat mempertahankan ereksi setelah penis masuk ke dalam vagina pasangan?
[ ] 1. Hampir tidak pernah atau tidak pernah
[ ] 2. Sesekali (kurang dari 50 persen)
[ ] 3. Kadang-kadang (sekitar 50 persen)
[ ] 4. Sering (lebih dari 50 persen)
[ ] 5. Hampir selalu atau selalu

5. Selama melakukan hubungan seksual, seberapa sulit Anda mempertahankan ereksi untuk menyelesaikan hubungan seksual?
[ ] 1. Sangat sulit sekali
[ ] 2. Sangat sulit
[ ] 3. Sulit
[ ] 4. Agak sulit
[ ] 5. Tidak sulit

Nilai yang didapat kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan nilai intensitas disfungsi ereksi (Erectile Dysfunction Intensity Scala). Berdasarkan jumlah nilai, didapat klasifikasi berat ringannya disfungsi ereksi (DE) sebagai berikut:

Nilai 5-10 = DE berat
Nilai 11-15 = DE sedang
Nilai 16-20 = DE ringan
Nilai 21-25 = berarti fungsi ereksi normal.

Kalau Anda mendapatkan nilai fungsi ereksi tidak normal, tak perlu buang waktu untuk cemas atau panik. Namun, jangan pula membiarkannya begitu saja sampai berlarut-larut karena akan mendatangkan masalah yang semakin berat bagi keharmonisan hubungan suami istri.

Jangan pula kemudian berupaya dengan cara yang tidak benar, dengan mencari pertolongan kepada orang atau lembaga yang tidak ahli di bidangnya. Sebaiknya Anda segera menghubungi dokter ahli seksologi dan andrologi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Puas Enggak Ya Pasanganku?

Kepuasaan seksual suami/istri tak perlu diungkapkan dengan nyata, pun seharusnya pasangannya sudah tahu.

"Pasanganku puas tidak ya? Habis, dia diam saja sih?" Kita mungkin sering bertanya-tanya perihal kepuasaan yang diperoleh pasangan kita setelah berintim-intim. Sebab, tak seperti di film-film Barat yang kadang kepuasan itu diungkapkan secara nyata, secara verbal, maka di masyarakat kita kepuasan ini kadang tak terungkapkan hingga tak heran bila kita pun sering bertanya-tanya seperti itu.

Menurut dr Ferryal Loetan, ASC&T, DSRM, MKes (MMR), sebenarnya sebagai suami-istri yang telah berhubungan lama seharusnya kita tahu dengan sendirinya apakah pasangan kita merasakan kepuasan atau tidak. Artinya, dari pengalaman, hal itu bisa didapat walaupun mungkin tak diungkapkan secara verbal. "Karena kepuasan sifatnya personal dan tak bisa dilihat secara fisik. Hanya bisa dirasakan oleh orang itu sendiri, orang lain tak bisa tahu. Dia yang bisa merasakan kalau yang ini kurang enak, tidak enak atau lebih enak. Kalaupun orang lain mengetahui, lebih secara perasaan tahunya."

Merasa Puas jika Pasangan Puas
Menurut konsultan seks dari RS Persahabatan, Jakarta, ini sah-sah saja kalau kepuasan itu lantas diungkapkan dengan verbal maupun tidak. "Kalau di Barat memang kepuasan itu mereka ungkapkan. Caranya bisa macam-macam. Bisa dengan teriakan-teriakan, eluhan, desahan, maupun gerakan yang vulgar kala berhubungan intim."

Sebetulnya, hal ini memang suatu yang bersifat alamiah. Banyak orang yang kalau merasakan suatu kenikmatan tertentu secara tak sadar atau spontan akan mengungkapkannya dengan teriakan, eluhan, desahan, dan lainnya itu. Hanya saja, pada kita memang hal ini tak jadi budaya. "Mungkin karena rasa malu atau ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran didengar orang hingga kepuasaan itu umumnya tak dilampiaskan atau dikeluarkan secara apa adanya, justru dipendam."

Dengan ungkapan kepuasaan secara nyata, mudah bagi kita mengetahui kepuasan pasangan kita. "Tapi, itu pun tak bisa jadi patokan karena bisa saja ungkapan itu dibuat-buat. Misal, bila perempuannya seorang yang ahli atau profesional dalam berhubungan seks, bisa saja dia buat-buat atau berpura-pura dengan berteriak dan sebagainya seakan-akan mendapat kenikmatan. Nah, pasangan biasanya tak akan tahu apakah itu betul-betul atau hanya berpura-pura." Dengan melihat pasangannya puas, itu akan menjadi suatu kepuasan tersendiri bagi pasangannya. Itu terjadi baik pada lelaki maupun wanita.

Perlu Keterbukaan
Ferryal mengakui ungkapan kepuasan pada setiap orang berbeda-beda. "Mungkin ada yang mengungkapkannya dengan mengebu-gebu, meledak-ledak, dan ada juga yang kalem-kalem saja." Tak ada patokan yang pasti, apakah hal ini ada kaitannya dengan kepribadian orang tersebut atau tidak. "Sebab, ada juga orang yang pendiam, tapi mengungkapkan kepuasan seksnya dengan mengebu-gebu atau berisik. Karena itulah dikatakan tak tentu dan tak bisa dijadikan patokan."

Yang jelas, sebagai pasangan hidup, kita harus mengetahui secara pasti pasangan kita seperti apa. Termasuk juga bagaimana kalau ia merasa puas atau tidak. "Selain itu, untuk menjaga keharmonisan hubungan antarpasangan, perlu keterbukaan. Pembicaraan mengenai seks yang bebas alias tak ada batasannya. Bicara yang sevulgar apa pun tak masalah. Termasuk puas-tidaknya hubungan seks mereka. Misal, 'Kayaknya kita bosan dengan variasi seks yang ini, bagaimana kalau coba yang lain.' Dengan dibicarakan, maka akhirnya terbuka bahwa pasangan kita tak puas dengan hubungan seks yang itu-itu saja, hingga akhirnya bisa ketemu variasi yang memuaskan dan bisa dinikmati bersama."

Selama ini yang terjadi, paparnya, laki-lakilah yang paling sering mengungkapkan kepuasannya. "Lebih banyak kaum perempuan yang tak pernah mengungkapkannya. Maka itu, dari penelitian terakhir lebih dari 50 persen para istri di Indonesia tak pernah mencapai orgasme selama dia menikah. Hal ini menunjukkan bahwa dia tak pernah mendapatkan kepuasannya, kan?"

Kalau saja ada keterbukaan, tentunya hal seperti ini tak bakalan terjadi. "Mungkin karena takut, malu atau karena faktor budaya, maka wanita di kita kebanyakan cuma melayani suami, memuaskan suami, sementara dia sendiri tak puas. 'Saya, sih, tak apa-apa tak puas juga, yang penting, kan, suami. Toh, saya, kan, cuma melayani dan memuaskan suami.' Ungkapan seperti ini, kan, yang banyak terdengar di negara kita? Seakan-akan istri menganggap kalau dirinya tak perlu puas juga tak apa. Akibatnya, dia sendiri tak menganggap bahwa kepuasan seksual itu berhak untuk didapatnya."

Padahal, kepuasan seks bagi pasangan berkeluarga merupakan hak untuk kedua pasangan, baik perempuan maupun laki-laki. "Kalau dalam hubungan seksual tersebut pasangan tak pernah mendapatkan kepuasan, maka dia berhak menuntut kepuasan itu." Tentunya, bukan dengan cara ribut atau bertengkar, melainkan dengan mencari jalan keluarnya. Nah, jalan keluarnya adalah keterbukaan di antara pasangan. Begitu juga jika pasangan punya kekurangan, dibicarakan dan dicarikan jalan keluar bersama. Misal, kalau ada gangguan atau penyakit, maka dibicarakan untuk bersama-sama konsultasi ke ahlinya dan mencari penyembuhan. Jadi bukannya diam-diam atau dipendam karena hal itu justru bisa menimbulkan stres atau tekanan baru terhadap pasangan, baik itu pihak laki-laki atau perempuan.

Ejakulasi Tak Berarti Puncak Kepuasan
Bagaimanapun, papar Ferryal, tujuan dari melakukan kegiatan aplikasi seksual memang untuk mendapatkan kepuasan secara seksual. Jadi, sebenarnya kepuasan seksual itu ada pada diri setiap orang. "Hanya saja, bentuk kepuasan seks itu sangatlah tidak jelas."

Tapi realisasinya, bentuk dari kepuasan pada laki-laki adalah terjadi ejakulasi atau keluar air mani saat tahap klimaks dalam berhubungan intim. Walaupun demikian, bukan berarti ejakulasi itu sendiri selalu diikuti oleh kepuasan yang maksimal. "Bisa saja seorang laki-laki ejakulasi, tapi tidak merasakan kepuasan yang maksimal. Misal, kalau ia mengalami ejakulasi prematur. Dia ejakulasi, tapi ejakulasinya tak diharapkan atau cepat keluar sehingga hasil yang didapatnya tak maksimal."

Akibatnya, pasangannya tak terpuaskan atau tidak merasakan kepuasan yang maksimal, hingga dari segi psikis si pria itu pun akan mengalami suatu tekanan yang mengakibatkan kepuasannya makin menurun rasanya. "Kalau dia dapat memuaskan pasangannya, maka dia pun akan mendapatkan kepuasan yang maksimal." Menurut Ferryal, seorang laki-laki bisa memuaskan pasangannya bila dia bisa mencapai waktu, yaitu yang normal 7-9 menit.

Ketidakpuasan pria juga bisa disebabkan dia impoten. Untuk impoten ini, juga banyak gradasinya, dari derajat paling ringan sampai berat. "Yang ringan mungkin dengan dirangsang pakai teknik-teknik tertentu masih bisa ereksi, tapi yang berat, dengan diapa-apakan pun tak bisa 'bangun'".

Orgasme, Puncak Kepuasan
Sementara bentuk kepuasan pada perempuan adalah terjadi orgasme. "Orgasme pada perempuan tak disertai ejakulasi karena dia tak punya air mani. Hal ini perlu dipertegas karena banyak orang yang menganggap wanita pun mengeluarkan mani atau ejakulasi. Ini tak benar," terang Ferryal. Tak heran, banyak pertanyaan dari kaum perempuan, "Bentuk orgasme pada perempuan itu seperti apa sih?"

Sebetulnya, orgasme pada perempuan yang paling bagus dan sempurna yaitu bila dapat terjadi bersama-sama. Artinya, bersama-sama secara fisik dan psikis atau emosionalnya. Secara fisik, dia merasakan suatu getaran atau kekakuan dari seluruh otot-otot tubuhnya yang secara mendadak atau tiba-tiba, disertai pula dengan relaksasi yang mendadak. Sedangkan secara psikis, dia mendapatkan kelegaan yang benar-benar lepas, tanpa suatu beban atau ia mendapat kesenangan secara emosional. Kalau kedua faktor tersebut terjadi bersamaan, dia bisa mencapai kepuasan maksimal. "Kalau salah satunya tidak tercapai, dia bisa mendapatkan kepuasan tapi lebih rendah mutu atau nikmatnya."

Yang jelas, papar Ferryal, puncak kepuasan, baik pada lelaki maupun perempuan, bisa diibaratkan saat di mana mereka seperti orang mati sesaat atau mati keenakan. "Karena saat itu mereka tak merasakan apa-apa. Bahkan, kalau diapa-apakan pun saat itu mereka tak bisa melakukan apa-apa. Saat itulah mereka mendapatkan puncak kepuasannya." Nah, Bu-Pak, mulai bisa mengenali kepuasan pasangan, kan?

Bukan Tipe Dingin
Kalau pasangan kita tak pernah mengungkapkan kepuasan seksnya, terang Ferryal, belum tentu dia termasuk tipe yang dingin. "Mungkin karena budayanya memang demikian atau dia termasuk tipe tertutup, hingga malu-malu karena dia tak terbiasa mengungkapkan kepuasannya atau emosinya." Namun yang jelas, orang yang mengungkapkan kepuasan dalam hubungan seksnya termasuk orang yang berani dan terbuka.

Penyebab Ketidakpuasan Wanita
Menurut Ferryal, banyak penyebab dari ketidakpuasan perempuan, entah karena pasangannya tak mampu melakukan pemanasan maupun tak mampu untuk waktu yang cukup hingga gagal dalam memuaskan pasangannya. "Selain itu termasuk pula ada kelainan-kelainan yang terjadi pada pasangan, semisal prematur ejakulasi atau impoten."

Sementara kelainan yang banyak terjadi pada perempuan, seperti masalah virgiditas, dingin, dan tak mampu membangkitkan gairah seksual, ada ketakutan terhadap seksual, dan dyspareunia (vagina merasa nyeri atau sakit setiap kali melakukan hubungan seks, meski secara fisik tak apa-apa, tapi lebih karena faktor psikis yaitu ketakutan-ketakutan seksual), menyebabkan si wanita tak mendapatkan kepuasan seks.

Sama halnya dengan laki-laki yang impoten, virgiditas pada perempuan juga gradasinya banyak, dari yang ringan sampai berat. Yang ringan, misal, timbul kekejangan-kekejangan di sekitar alat kelaminnya. Sementara yang berat, contoh, baru melihat suami masuk kamar dan buka baju saja, istrinya langsung kejang-kejang, kakinya kaku, dan dia ketakutan. "Meski hal seperti itu tak dia harapkan, tapi kekejangan itu terjadi secara tiba-tiba."

Memilih Film Baik untuk Anak

DI ERA modern sekarang, anak-anak memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan hiburan atau mengisi waktu luangnya. Salah satu di antaranya adalah menonton tayangan film baik di televisi atau pun bioskop.

Selain memiliki fungsi menghibur, kegiatan menonton film juga dapat dijadikan sarana atau media edukasi. Namun tak jarang pula, film dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak karena pesan dan isi yang disampaikannya tidak sesuai atau layak bagi usia anak-anak.

Menurut Dr Frieda Mangunsong, M.Ed, Associate Professor dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, film adalah salah satu media yang mampu mempengaruhi anak-anak bahkan sejak mereka bayi sekalipun. Dari film, anak-anak bisa mendapatkan berbagai hal mulai dari meniru kata-kata, mengenal warna, benda, gerakan, musikalitas, ritme dan banyak hal.

"Anak-anak menyukai film karena dalamnya terdapat banyak sekali unsur. Ada tema dan pesan, kaya akan gambar dan warna, tampilan kata-kata, gerakan visual dan adegan-adegan yang menghibur," ungkap Frieda di sela-sela jumpa pers pemutaran perdana film musikal dan petualangan anak "Liburan Seruuu" di Jakarta, Senin (30/4) kemarin.

Film, lanjut Frieda, juga dapat memberikan model-model tertentu bagi anak-anak mulai dari kekerasan, kecerdasan, kepemimpinan, keceriaan, kejenakaan. "Nah di sinilah pentingnya peruntukkan film bagi anak. Jangan sampai orang tua membiarkan anak-anaknya menonton film yang isi dan pesannya tak sesuai untuk usianya," tegas Frieda.

Yang tak kalah penting, lanjutnya, film juga dapat membantu memberikan stimulasi dan mengembangkan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) dari individu yang ditontonnya. Kecerdasan majemuk disini adalah kecerdasan yang menyangkut banyak aspek mulai dari fungsi bahasa, gambar(imajinasi), musik, motorik (gerak), logika, sosial hingga spiritual.

Supaya film memberikan fungsi edukasi dan memberi stimulasi kecerdasan anak, Frieda menyarankan orang tua untuk mendamping, mengarahkan dan memilih film yang baik untuk anak-anak.

"Pilihkan film yang polos, sesuai dengan perkembangan usia dan tugas perkembangan anak. Hindari film yang mengandung kekerasan, mistis, percintaan, perilaku seksual yang berlebihan dan belum waktunya," paparnya.

Ia juga menyarankan orang tua untuk memilih film yang dapat membantu anak mengembangkan fungsi berpikir, menganalisa situasi dan memecahkan masalah.

"Dengan film yang baik, anak-anak akan tertantang untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, menentukan sikap, mengendalikan emosi dan ,meningkatkan berbagai keterampilan supaya mandiri, jelasnya.

Waspadai Isi Pesan Film
Frieda juga menekankan orang tua memperhatikan isi dan pesan yang disampaikan sebuah film. Karena jika pesan yang disampaikan samar atau tak jelas, bukan mustahil yang diserap anak-anak adalah pesan yang buruk dan merusak.

"Ketika pesan itu melenceng dari dunia anak seperti kekerasan, seksual, percintaan di luar usia, penipuan atau cerita tak positif atau konstruktif seperti kemenangan di pihak yang salah, ada kemungkinan anak tidak menangkap pesan dengan lengkap dan baik. Akhirnya pesan yang ditangkap justru yang buruk," tegasnya.

Untuk itu, kata Frieda peran orang tua dituntut dalam memahami pesan sebuah film, selain juga melakukan pendampingan dan penjelasan maknanya. Pastikan apakah isi film menimbulkan kekhawatiran, kecemasan atau ketidakjelasan pada anak.

"Untuk itu, kita bisa lihat perilaku anak setelah mereka menonton film, apakah menimbulkan efek ketidakbahagiaan, kecemasan, kekerasan, hal negatif atau perilaku anak yang mencoba-coba apa yang ditunjukkan film. Bila ini terjadi, kita wajib menetralisirnya dengan cara menjelaskan kepada anak mengapa itu terjadi dan berikan pemahaman bahwa dalam hidup ada yang baik dan yang buruk. Ajak mereka menonton film yang baik untuk menyeimbangkannya, dan tanamkan pada anak bahwa kita harus bertindak baik dan positif," tandas Frieda.

Hal lain yang tak kalah penting dalam aktivitas menonton film adalah batasan waktu atau durasi menonton. Frieda menegaskan, orang tua harus dapat membedakan aktivitas menonton film pada masa sekolah dan pada saat musim liburan sekolah.

Berikanlah waktu atau kebebasan yang agak longgar kepada anak untuk menonton film di musim liburan sebagai bagian rekreasi. Namun bila ada kegiatan lain selama liburan, menonton film dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif. "Buatlah perencanaan agar aktivitas anak-anak tetap seimbang sesuai pertimbangan dan kebutuhannya. Jangan sampai kegiatan utama mereka sehari-hari menjadi tersita untuk hanya menonton film," tandasnya.

Maniak Seks, Kenali Gejalanya

EKSPRESI seksual merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan telah menjadi fitrah bagi manusia sebagai mahluk biologis. Tetapi, jika ekspresi atau dorongan itu begitu kuat dan sering kali seks menjadi lebih dominan ketimbang kesehatan, pekerjaan atau hubungan sehingga kehidupan Anda menjadi terganggu, mungkin saja Anda mengalami perilaku seks kompulsif (compulsive sexual behaviour/CSB).

Dalam istilah medis, perilaku seks kompulsif juga sering disebut hiperseks, nymphomania atau erotomania. Ada juga yang menyebut kecanduan seks atau maniak seks. Tetapi dua istilah terakhir ini biasanya berkaitan atau merujuk pada tingginya aktivitas seksual bersama penggunaan alkohol, narkoba atau pun perjudian.

Menurut penjelasan dalam situs Mayo Clinic, perilaku seks kompulsif secara umum dipertimbangkan sebagai suatu kelainan yang dialami seseorang dalam mengendalikan impuls atau dorongan seks. Akibat kelainan ini, seseorang tak mampu menolak godaan atau dorongan melakukan suatu tindakan yang merugikan diri sendiri atau pun orang lain. Pada kelainan seks ini, perilaku normal yang seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi kebiasaan yang ekstrim.

Apa pun itu istilahnya, perilaku seks kompulsif adalah masalah serius yang dapat mengganggu kehidupan seseorang dan bahkan mengancam kesehatan. Tetapi dengan pengobatan dan program-program bantuan, CSB sebenarnya dapat dikendalikan sehingga seseorang dapat membangun kehidupan seks yang lebih sehat.

Kenali gejalanya
Gejala CSB sangat bervarasi, baik dari jenis maupun tingkat keparahannya. Dorongan untuk tenggelam dalam perilaku kompulsif ini bisa bersifat kronis dan kuat, dan mungkin akan terasa dorongan ini di luar kendali. Secara umum, gejala perilaku seks kompulsif dapat dikenali dari pola-pola perilaku berikut ini:

* Memiliki banyak pasangan seks atau affair di luar perkawinan yang sah.
* Berhubungan seks dengan pasangan baru yang belum dikenal atau jasa prostitusi
* Menghindari keterlibatan emosional dalam hubungan seksual
* Menggunakan layanan komersial yang mengumbar seksualitas lewat telepon atau internet
* Masturbasi dengan frekuensi sangat sering.
* Seringkali melihat atau menggunakan materi-materi pornografi.
* Melakukan hubungan seks bersifat masokisme dan sadisme.
* Mengekspos atau memamerkan seksualitas kepada umum (eksibisionisme)

Orang yang mengalami CSB seringkali menggunakan seks sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan atau pun stres. Ia juga akan membiarkan dirinya terlibat perilaku seks berisiko meski sadar akan konsekuensinya seperti gangguan jantung, penyakit menular seksual atau hilangnya hubungan dengan orang yang dicintai.

Pria dan wanita yang mengalami CSB mungkin saja telah menikah atau sedang dalam hubungan serius. Mereka tampaknya hidup normal, namun sebenarnya tidak. Kenyataannya, mereka seringkali kesulitan menciptakan dan mempertahankan keintiman secara emosional. Mereka lalu mencari kepuasan melalui perilaku seks, tetapi pemenuhan kebutuhan itu cenderung tidak tercapai sehingga kehidupan mereka menjadi terasa hampa. CSB juga dapat dialami siapa saja tampa mempedulikan preferensi seksual , baik heteroseks, homoseks atau pun biseks.

Penyebab
Sejauh ini, para ahli belum dapat memastikan apa penyebab timbulnya CSB. Penelitian ilmiah mengenai kecanduan seks ini masih terbilang baru, dan para ahli masih menyelidiki kemungkinan beberapa penyebabnya antara lain :

* Abnormalitas otak. Penyakit atau kondisi medis tertentu kemungkinan dapat menimbulkan kerusakan pada bagian otak yang mempengaruhi perilaku seksual. Penyakit seperti multiple sclerosis, epilepsi dan demensia juga berkaitan dengan CSB . Selain itu, pengobatan penyakit Parkinson dengan dopamine diduga dapat memicu perilaku CSB.

* Senyawa kimia otak. Senyawa kimia pembawa pesan antarsel otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, norepinephrine dan zat kimia alami lain dalam otak berperan penting bagi fungsi seksual dan mungkin juga berkaitan dengan CSB meski belum jelas mekanismenya.

* Androgen. Hormon seks ini secara alami terdapat pada pria dan wanita. Walaupun androgen juga memiliki peran yang sangat penting dalam memicu hasrat atau dorongan seks, belum jelas apakah hormon ini berkaitan langsung dengan CSB.

* Perubahan sirkuit otak. Beberapa ahli membuat teori bahwa CSB adalah sebuah jenis kecanduan yang seiring waktu menimbulkan perubahan para sirkuit syaraf otak. Sirkuit ini merupakan jaringan syaraf yang menjadi sarana komunikasi antara satu sel dengan sel lain dalam otak. Perubahan ini dapat menimbulkan reaksi psikologis menyenangkan saat terlibat dalam perilaku seks dan reaksi tidak menyenangkan ketika perilaku itu berhenti.

Seks Saat Menstruasi, OK Aja!

HUBUNGAN seksual bersama istri dia nikmati hampir setiap hari. Bahkan pada saat istri menstruasi pun hubungan seks tetap berlangsung. "Saya juga tidak mengenakan kondom," katanya. Adakah bahaya atau kemungkinan istrinya hamil?

"Saya seorang suami yang baru menikah sekitar enam bulan lalu. Istri saya berusia 28 tahun. Kami sering melakukan hubungan seksual, bahkan hampir setiap hari. Selama ini kami tidak mengalami masalah dalam melakukan hubungan seks. Saya bisa merasa puas, demikian juga istri. Bahkan istri mengaku dapat mencapai kepuasan beberapa kali dalam melakukan satu kali hubungan seks.

Kadang-kadang kami melakukan hubungan seks saat istri sedang mengalami menstruasi. Dan seperti biasa pada saat mencapai klimaks, cairan sperma saya keluar di dalam vaginanya. Saya juga tidak mengenakan kondom.

Yang menjadi pertanyaan saya, apakah kebiasaan tersebut berbahaya? Adakah akibatnya bila melakukan hubungan seks dalam keadaan sedang menstruasi? Selama ini, baik saya maupun istri, tidak merasakan akibat apa pun. Kami merasa seperti biasa saja.

Saya juga ingin tahu, mungkinkah akan terjadi pembuahan dan kehamilan bila melakukan hubungan seks pada waktu menstruasi? Sebenarnya kami belum berencana mempunyai anak, setidaknya dalam dua tahun ini."

Trisno, Surabaya

Pemahaman Abad 18
Saya ingin menjelaskan dan meyakinkan Anda bahwa menstruasi merupakan suatu peristiwa normal dan fisiologis. Artinya, peristiwa menstruasi terjadi dalam keadaan fungsi tubuh yang normal dan sehat. Peristiwa ini terjadi karena adanya keseimbangan beberapa hormon yang berperan pada fungsi seksual dan reproduksi.

Pada saat menstruasi, terjadi perubahan pada dinding rahim bagian dalam yang disertai dengan pecahnya pembuluh darah kecil di dalamnya. Akibatnya, terjadi perdarahan, yang kemudian mengalir keluar melalui vagina.

Karena peristiwa menstruasi adalah suatu peristiwa normal dan fisiologis, darah menstruasi adalah darah yang normal pula, sama dengan darah yang mengaliri semua organ tubuh. Jadi sesungguhnya darah menstruasi bukan darah kotor atau yang mengandung penyakit dan berbagai bahan berbahaya lainnya.

Selama ini memang beredar banyak informasi yang salah dan menyesatkan tentang darah menstruasi. Informasi yang salah itu misalnya bahwa darah menstruasi adalah darah kotor, yang bahkan dapat menimbulkan berbagai akibat buruk bagi yang tersentuh atau menyentuhnya.

Bahkan menilik catatan sejarah masa lalu, pada tahun 1878 pernah diterbitkan surat sejumlah dokter yang menyatakan bahwa sentuhan wanita yang sedang menstruasi dapat menimbulkan berbagai penyakit. Tentu saja pendapat itu salah total dan kalau kini masih ada dokter yang menganggap itu benar, dapat dipastikan dia bukanlah dokter yang normal.

Namun, sisa-sisa informasi yang salah pada abad ke-18 itu masih ada di masa kini, khususnya di kalangan masyarakat yang tak mengerti atau tidak pernah mendapat informasi yang benar mengenai peristiwa menstruasi. Terbukti masih banyak orang yang beranggapan bahwa darah menstruasi adalah kotor.

Tidak Hamil
Mengenai hubungan seksual pada saat menstruasi, tidak ada alasan dan bukti ilmiah bahwa dapat menimbulkan akibat buruk. Larangan melakukan hubungan seksual pada saat menstruasi didasarkan atas informasi yang salah itu, bahwa darah haid adalah kotor. Selain itu, juga karena alasan estetika dan nilai moral.

Alasan yang dicari-cari sebagai pembenaran untuk mendukung larangan itu, tidak pernah terbukti secara ilmiah. Saya sudah mengamati dan mengikuti hampir 200 pasang suami istri yang mengaku biasa melakukan hubungan seksual pada saat menstruasi.

Tidak ada akibat buruk yang mereka alami, baik di pihak istri maupun suami. Mereka merasa sehat, mempunyai anak, dan tidak mengalami gangguan apa pun yang dapat dikaitkan dengan menstruasi.

Mengeluarkan sperma di dalam vagina ketika melakukan hubungan seksual pada saat menstruasi, juga tidak menimbulkan akibat apa pun. Pembuahan tidak mungkin terjadi pada saat menstruasi. Justru menstruasi terjadi karena tidak ada pembuahan atau kehamilan. Artinya, Anda tidak perlu khawatir terjadi kehamilan. (Prof. Wimpie Pangkahila Sp. And)

Mimpi yang Berulang, Pertanda Apa?

MIMPI sering menemani tidur kita, datang tanpa diundang dan sering pergi tanpa berbekas. Di antara Anda ada yang pernah bermimpi sama berulang kali. Apakah ini normal, atau menandakan sesuatu yang berbahaya? Mengapa mimpi ini kembali lagi dan lagi?

Inilah penjelasan psikolog Leila Ch Budiman dalam rubrik Konsultasi Psikologi untuk menjawab pertanyaan Ted, Fi dan Pop.

Diajak kawin - Bapak Ted di Bali
(Juga buat Pop yang memimpikan ibunya sebagai monster yang menyeramkan bermata satu dan mengejar-ngejar dirinya setelah ibunya mencaci maki calon pilihannya)yang memimpikan ibunya sebagai monster yang menyeramkan bermata satu dan mengejar-ngejar dirinya setelah ibunya mencaci maki calon pilihannya)

Bu Lei, tahun lalu saya (Ted, 60) bermimpi diajak kawin kakak ipar saya yang telah meninggal dunia. Dalam mimpi itu ajakannya saya tolak meskipun istri saya menyetujui. Mimpi ini berulang lagi sebulan kemudian, dengan modus yang sama sampai empat kali. Dua kali dengan kakak ipar yang sudah meninggal, sekali dengan teman wanita sekampung, lainnya dengan teman wanita yang di luar negeri. Impian yang terakhir baru-baru ini dan seluruh ajakan kawin saya tolak. Di antara keempat wanita itu hanya satu yang pernah punya hubungan khusus dengan saya. Itu pun sebatas ciuman, tidak lebih dari itu, juga terjadi sudah lebih dari 30 tahun lalu.

Setelah mimpi, badan saya lemas dan mimpi itu sangat sulit saya lupakan sampai mengganggu konsentrasi kerja saya sampai dua minggu lamanya. Saya juga mengalami perubahan dalam pergaulan dengan wanita. Saya lebih tertarik kepada mereka, terutama di kampus dan puas kalau dapat mengajaknya ngobrol atau makan kudapan bersama. Jika beberapa hari tidak saya lakukan ini, saya gelisah tidak menentu.

Sementara itu ada keinginan kuat mengajak istri saya ke masa lalu, saat kami baru menikah. Ingin sekali kembali ke masa ketika kami hidup berdua, hubungan intim. Istri saya siap dan penuh pengertian, tetapi sering dapat kendala dari lingkungan dan keluarga.

Apakah mimpi-mimpi itu tidak berbahaya? Apakah ketertarikan saya kepada teman wanita dan keinginan saya kembali ke kehidupan awal pernikahan saya dengan istri saya adalah gejala psikis yang wajar?

Dua bulan mimpi yang sama – Fi di Jabar

AssWrWb Bu Leila, saya (30) ibu rumah tangga yang bahagia dengan dua putra yang baik dan sehat. Suami mencintai saya, sangat jujur dan penuh pengertian. Suami adalah segalanya bagi saya. Saya sangat mensyukuri dan menikmati sekali keadaan ini.

Akhir-akhir ini ada hal yang sangat mengganggu pikiran saya. Dalam dua bulan terakhir ini saya terus-terusan bermimpi teman SMA. Padahal saya tidak pernah lagi berhubungan setelah memutuskan tidak berharap lagi padanya. Ini dua tahun sebelum saya mengenal dan menikah dengan suami saya.

Memang dulu saya pernah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Dia hanya penjual tempe yang kurus, kalem, tetapi pintar. Melihatnya memakai sepeda kumbang yang butut adalah pemandangan terindah yang saya rasakan saat itu. Mati-matian saya menyembunyikan perasaan saya dan saya terbakar karena cemburu kalau dia memerhatikan cewek lain. Hanya ketika akan berpisah, dia sedikit memerhatikan saya dan tidak pernah menyatakan cinta kepada saya.

Sekarang sudah tujuh tahun saya menikah dengan suami yang selalu berusaha memanjakan saya, tanpa ujung-pangkal tiba-tiba mimpi itu datang terus. Bu, bagaimana caranya agar mimpi-mimpi itu hilang dan tidak mengganggu lagi?

Bapak Ted, Fi, dan Pop yang lagi gandrung bermimpi,

Benar, mimpi sering menemani tidur kita. Dia datang tanpa diundang dan seringkali pergi tanpa berbekas, hanya beberapa saja yang kita ingat. Mimpi senantiasa menemani tidur orang, sejak dia bayi sampai matinya. Ini gejala wajar, sewajar napas kita. Jadi, tidak dapat dihilangkan Fi. Bahkan psikiater Dr Mehta mengatakan mimpi itu berguna untuk membersihkan diri dari ”disturb feelings” (perasaan mengganggu) yang tidak mau kita akui.

Sigmund Freud sejak lama melihat pentingnya mimpi untuk mengerti masalah seseorang sebab mimpi adalah ”The royal road to the unconscious” (jalan ”tol” ke alam bawah sadar ) dalam bukunya yang terkenal The Interpretations of Dreams. Dari mimpi-mimpi inilah dapat dianalisis berbagai keinginan, ketakutan, perasaan yang tersembunyi.

Ada pula ahli yang mengatakan isi mimpi tidak begitu penting sebab itu hanyalah gejala fisiologis otak dalam usaha mengistirahatkan berbagai gugus neuronnya saja. Itu pula sebabnya isi impian seringkali tidak jelas, cukup kacau, dan tidak masuk akal.

Jika ada kerusakan dalam otak yang menyebabkan orang itu tidak bisa melihat atau tidak dapat mendengar, impiannya mengenai penglihatan dan pendengaran juga terganggu, bahkan dapat pula hilang (G William Domhoff, The scientific study of dreams, Washington, 2002). Jadi selama impian kita masih seru dan banyak ragamnya tandanya berbagai fungsi itu pun masih oke.

Bapak Ted, yang mulai menginjak masa sepuh, tetapi berulang kali mimpi diajak kawin beberapa wanita, mungkin tanpa sadar Anda ingin mengecap kembali suasana romantis. Dari keinginan yang samar-samar diajak kawin yang telah meninggal) jadi tambah nyata (yang terakhir si dia pernah dicium). Impian itu pun menguatkan kepercayaan diri untuk mendekati perempuan. Syukurlah jika Bapak Ted lebih getol mendekati istrinya daripada pergi ke orang lain. Apakah keinginan ini wajar? Ya, wajar, asalkan dengan perempuan lain ”kudapan” bersama tidak jadi kelonan bersama!

Jeng Pop yang memimpikan bundanya menjadi monster yang menyeramkan adalah refleksi perasaannya sendiri terhadap ibunya yang melabrak kekasihnya. Jika sikap ibunya lebih lembut dan rasional mungkin impian Jeng Pop tidak seram lagi alias minus sang monster.

Dinda Fi, meski cinta SMA itu sudah tutup buku, ia tetap masih tercatat dalam bawah sadarmu yang sewaktu-waktu bisa tersembul keluar dalam mimpi. Betapapun gangguan mimpi, lebih ringan daripada gangguan sebenarnya? Sering kali yang tidak kita dapatkan terasa lebih menarik dari yang didapat. Jika Anda menikah dengan ”pacar” SMA itu, mungkin tiap malam Anda akan memimpikan suamimu yang sekarang!

Berbahayakah mimpi? Tidak, selama posisinya tetap jadi mimpi, jangan di-upgrade dan diyakini sebagai ”ramalan jelek” dan ”nasib jelek”.