Selasa, 18 November 2008

Yoga Praktis di Tempat Kerja

BISAKAH mempraktikkan yoga di kantor? Bisa sekali. Anda bisa melakukan jurus yoga sederhana di meja kerja.

- Mulailah dengan duduk tegak di kursi. Telapak kaki menjejak lantai dengan jarak keduanya kira-kira 10-15 cm. Letakkan telapak tangan di atas paha dan biarkan tulang punggung lurus. Kepala tegak. Tarik napas dan tahan selama 5 detik dan buang selama 5 detik. Ulangi sebanyak yang Anda mau.

- Tarik napas dan angkat lengan ke atas kepala. Pegang pergelangan tangan kiri dengan tangan kanan. Buang napas dan bengkokkan tangan beserta badan ke kanan. Tahan selama 3 hitungan napas. Tarik napas dan kembali ke posisi semula. Buang napas dan bengkokkan badan serta tangan ke kiri. Buang napas dan kembali ke posisi semula.

- Putar bahu beberapa kali ke depan dan ke belakang. Lalu, temukan kedua tangan di balik punggung dan tarik sejauh mungkin menjauhi punggung. Tarik napas dan angkat dada, sehingga punggung membengkok ke belakang. Tahan selama 3 hitungan napas. Buang napas dan letakkan tangan di lutut.

- Tarik perut ke arah dalam dan angkat bahu hingga posisi Anda mirip kucing menggeliat, tetapi posisi duduk. Tahan posisi itu selama 3 hitungan napas.

- Tetap dalam posisi duduk, jatuhkan perlahan tubuh bagian atas menindih paha, sehingga kedua telapak tangan mencapai lantai.

- Putar badan ke kanan. Tempatkan tangan kiri di luar paha kanan dan tangan kanan di bagian belakang kursi. Pastikan daerah dada dan ketiak kanan terangkat. Jangan lupa, kepala juga berputar. Pandangan mata melewati bahu kanan. Gerakkan mata ke bagian sudut kanan atas mata dan kemudian sudut kiri bawah. Tutup mata dan kembali ke posisi semula. Ulangi untuk bagian kiri. Lakukan selama 5 menit dan rasakan kesegaran yoga singkat dan praktis ini.
Selamat mencoba!

Suplemen Vitamin C dan E tak Kurangi Risiko Kanker

MENGONSUMSI pil atau suplemen vitamin C dan E ternyata tidak mempengaruhi risiko seseorang mengidap kanker, demikian hasil riset terbaru melibatkan sekitar 15.000 pria di Amerika Serikat.

"Setelah hampir 10 tahun partisipan melakukan suplmentasi vitamin C atau E, kami tak menemukan bukti yang mendukung penggunaan kedua suplemen tersebut dalam pencegahan kanker," ungkap Howard D. Sesso, Sc.D., M.P.H., asisten profesor jurusan kesehatan di Brigham and Women’s Hospital.

"Meskipun penggunaan suplemen vitamin C dan E tidak memberikan manfaat perlindungan, kedua pelengkap itu juga tak menimbulkan bahaya," tambahnya.

Penelitian tersebut, yang didanai National Institutes of Health dan sejumlah produsen vitamin, melacak risiko kanker pada 14.641 dokter pria AS yang menggunakan vitamin E 400 IU setiap hari atau plasebo, atau 500 miligram vitamin V setiap hari atau plasebo. Usia rata-rata partisipan adalah 64 tahun pada awal riset dan perkembangan mereka diikuti selama delapan tahun.

Sebanyak 1.929 kasus kanker ditemukan di antara para partisipan, termasuk 1.013 kanker prostat. Secara keseluruhan, 490 pria yang mengonsumsi vitamin E terserang kanker prostat. Sementara pada kelompok plasebo, kasus kanker dialami 523 pria.

Hasil serupa terlihat pada pengguna vitamin C. Secara keseluruhan, risiko kanker tak memperlihatkan perbedaan mencolok antara kedua kelompok itu.

"Percobaan klinis seperti ini dengan cepat menutup pintu bagi harapan bahwa suplementasi vitamin yang umum ditemukan mungkin melindungi manusia dari kanker," kata Marji McCullough, kepala bagian gizi di American Cancer Society.

"Untuk memperoleh dua vitamin itu dan zat gizi lainnya, American Cancer Society menganjurkan agar masyarakat mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan -- sayur, buah dan jenis padi-padian. Bonusnya ialah jenis makanan itu membantu mencegah kegemukan, yang meningkatkan resiko beberapa jenis kanker," tegas McCullough.

Nikmati Burger secara Bijak

BURGER merupakan makanan impor yang cocok dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Rasanya yang nikmat, membuat burger digemari di seluruh penjuru negeri. Namun, di balik kenikmatannya, perlu mengonsumsinya secara bijak. Sebab, jika berlebihan macam-macam penyakit degeneratif menanti kita.

Sejalan arus globalisasi, berbagai jenis makanan dengan mudah menyebar antarnegara, tanpa mengenal batas wilayah. Dunia seakan-akan menjadi sempit, sehingga budaya suatu negara dengan mudah melintas ke negara-negara lain, termasuk budaya makan. Kegiatan iklan dan promosi memegang peran penting dalam penyebaran budaya makan.

Indonesia dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa merupakan sasaran empuk untuk dijadikan negara importir berbagai jenis makanan asing. Restoran dengan jenis masakan tertentu sudah mulai merambah negara kita, perlahan tetapi pasti akan menggeser makanan tradisional warisan leluluhur. Jenis masakan asal Jepang, Cina, Thailand, Korea, India, Itali, Perancis, Amerika, dan lain-lain, kian akrab dengan masyarakat kita.

Dalam kehidupan masyarakat modern, waktu memegang peran yang sangat penting. Masyarakat perkotaan selalu disibukkan dengan berbagai jadwal yang sangat padat. Masyarakat perkotaan yang selalu sibuk dan memiliki mobilitas tinggi, tentu memerlukan kehadiran masakan yang bersifat siap saji dan praktis.

Salah satu makanan siap saji yang saat ini banyak dikonsumsi adalah burger. Selain karena alasan praktis, kepopuleran burger juga ditunjang oleh rasanya yang enak, harganya yang tidak terlalu mahal, serta ketersediaannya di berbagai tempat. Saat ini burger dengan mudah dapat kita jumpai di kota-kota besar maupun kecil.

Jenis Burger
Burger merupakan produk daging giling segar. Komposisi utama burger adalah daging, umumnya mencapai 80 persen. Syarat mutu hamburger murni adalah lemak sapi yang ditambahkan tidak boleh lebih dari 49 persen; serta tanpa penambahan air, bahan pengikat, dan bahan pengisi.

Nama burger berasal dari hamburger, sebuah produk daging babi yang berasal dari Kota Hamburg di Jerman. Saat ini, istilah burger telah digunakan secara meluas pada produk-produk daging selain babi. Jika terbuat dari sapi, dinamakan beef burger. Jika terbuat dari ayam, dinamakan chicken burger.

Berdasarkan cara masaknya, chicken burger dibedakan menjadi dua jenis: yaitu digoreng atau fry chicken yang sering disebut dengan chicken sandwich; atau dipanaskan di atas pemanggang tanpa minyak, yang disebut chicken mesquite.

Jenis burger yang lain adalah garden burger, yaitu burger yang terbuat dari sayuran tanpa daging. Di Indonesia juga dikembangkan jenis burger lain, yaitu tempe burger. Kedua jenis burger tersebut sangat cocok untuk para vegetarian.

Jenis terakhir adalah fish burger (burger dari ikan) yang juga sering disebut sebagai fish sandwich. Ada pula bacon cheese burger, yaitu burger yang ditaburi keju (cheese) dan seiris daging babi (bacon) yang dipanggang. Burger biasanya disajikan dalam bentuk sandwich, yaitu diletakkan di antara setangkup roti.

Mudah Dibuat
Pembuatan burger bukan merupakan hal yang sulit. Burger bahkan dapat dibuat sendiri dalam skala rumah tangga. Bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan burger adalah daging giling atau daging cacah yang dibumbui, lemak, bahan pengikat, bahan pengisi, dan aneka bumbu.
Daging yang digunakan pada pembuatan burger biasanya berasal dari potongan-potongan atau tetelan daging hasil proses trimming. Hal itu yang menyebabkan daging burger mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Burger juga dapat dibuat dari bahan-bahan bukan daging, seperti kedelai atau tempe. Dari kedelai dapat dibuat daging tiruan yang selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan burger.

Lemak atau minyak ditambahkan pada pembuatan burger untuk memberikan rasa lezat, serta memengaruhi keempukan dan tekstur juicy produk. Jumlah lemak maksimum yang diizinkan menurut standar FAO adalah 30 persen. Penggunaan lemak berlebih harus dihindari untuk menghasilkan burger yang lebih sehat.

Pengisi dan Pengikat
Bahan pengisi dan bahan pengikat adalah bahan-bahan bukan daging yang ditambahkan dalam produk dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas, menurunkan penyusutan sewaktu pemasakan, memperbaiki sifat irisan, mengikat air, membentuk tekstur, dan memberikan warna yang khas.

Perbedaan bahan pengikat dan bahan pengisi adalah berdasarkan kandungan protein dan karbohidrat. Bahan pengikat memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dan mampu memperbaiki sifat emulsi, sedangkan bahan pengisi memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi serta pengaruhnya kecil terhadap sifat emulsi.

Bahan pengikat dapat berupa bahan nabati maupun hewani. Berdasarkan sifat elastisitasnya, bahan pengikat dapat dibedakan menjadi bahan pengikat kimiawi (misalnya garam-garam polifosfat) dan bahan pengikat natural. Bahan pengikat natural dibedakan menjadi bahan pengikat hewani (misalnya tepung ikan atau susu skim) dan bahan pengikat nabati (misalnya tepung kedelai atau isolat protein kedelai).

Bahan pengisi memiliki daya ikat yang besar, tetapi rendah sifat emulsifikasinya. Hal itu disebabkan oleh tingginya kandungan karbohidrat dan rendahnya kandungan protein. Bahan pengisi yang umum digunakan adalah tepung terigu, tapioka, dan sagu.

Beragam Bumbu
Bumbu merupakan substansi tumbuhan aromatik yang dikeringkan. Bumbu berfungsi sebagai penyedap, memberikan karakteristik warna dan tekstur, serta berperanan pula sebagai antioksidan. Jenis bumbu yang digunakan pada pembuatan burger sangat beragam, disesuaikan dengan wilayah dan kultur budaya masyarakat konsumennya.

Bahan tambahan pangan yang sering digunakan dalam pembuatan burger adalah: pemanis, nitrit (pengawet), dan pewarna. Pemanis yang biasa digunakan adalah sukrosa, dekstrosa, laktosa, dan sirop jagung.

Sebagai pengawet, bahan tambahan pangan yang sering digunakan adalah nitrit. Kehadiran nitrit dapat membunuh mikroba-mikroba patogen (penyebab penyakit) seperti Pseudomonas sp, Escherichia coli, Bacillus, dan Clostiridium, tanpa mengganggu mikroba yang bersifat baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria.

Nitrit juga merupakan penstabil warna merah pada daging. Efektivitasnya tergantung pada pH (keasaman) produk dan jumlah yang ditambahkan. Kemampuan nitrit sebagai pengawet akan meningkat dengan menurunnya pH dan bertambahnya jumlah yang dipakai.

Namun, penggunaan nitrit akhir-akhir ini mulai dibatasi karena dapat menyebabkan keracunan dan bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Menurut Standar Nasional Indonesia, penggunaan garam nitrat (kalium nitrat atau natrium nitrat) dibatasi sebanyak 500 mg/kg, sedangkan dalam bentuk garam nitrit (kalium nitrit atau natrium nitrit) dibatasi sebanyak 125 mg/kg burger.

Askorbat sebagai Antioksidan
Pada pembuatan burger sering ditambahkan askorbat. Biasanya dalam bentuk asam askorbat, natrium askorbat, maupun kalium askorbat. Dosis penambahannya adalah sebesar 0,5 persen. Askorbat berfungsi untuk membantu meningkatkan warna merah daging dengan mengurangi penggunaan nitrit, serta berperan sebagai antioksidan.

Di dalam burger juga sering ditambahkan pewarna buatan, khususnya pewarna merah. Aturan penggunaan pewarna pada burger dibatasi sebanyak 300 mg/kg. Jenis pewarna yang umum digunakan adalah eritrosin, merah aleura, dan tartrazin.

Selain itu, untuk memperkuat cita rasa, pada burger juga biasa ditambahkan flavor daging, seperti daging sapi atau daging ayam. Flavor daging ayam biasanya memiliki karakter yang lebih tajam daripada daging sapi.

Pada pembuatan burger, umumnya daging yang akan digiling telah didinginkan terlebih dahulu, sehingga temperatur penggilingan dapat dipertahankan tetap di bawah suhu 22 derajat Celsius untuk mencegah denaturasi protein. Penggilingan daging dapat menyebabkan protein terekstrak dari jaringan yang terpecah.

Pemasakan burger dapat dilakukan dengan cara pemanggangan, penggorengan, atau pemasakan dengan microwave. Tujuan pemasakan adalah menyatukan bahan, memantapkan warna, menginaktifkan mikroba, dan memperbaiki penerimaan konsumen. Lama pemasakan tergantung pada ukuran burger dan suhu pemasakan.

Penyebab Obesitas, Kanker, Hipertensi, dan Penuaan
Dilihat dari nilai gizinya, kandungan lemak pada hamburger cukup tinggi, yaitu sekitar 17 persen. Konsumsi lemak yang berlebih sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan obesitas dan aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah). Selanjutnya, aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit jantung.koroner dan stroke.

Namun, burger juga memiliki kandungan vitamin A yang cukup besar, yaitu sekitar 30 IU. Selain itu, burger juga memiliki kandungan asam oleat, asam linoleat, vitamin B1, vitamin B2, serta niasin.

Burger merupakan makanan berbasis daging yang sering disorot menjadi penyebab obesitas. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), angka kejadian obesitas di negara yang memiliki kebiasaan mengonsumsi burger sangat tinggi seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara Eropa. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di wilayah Asia Pasifik, gejala tersebut di atas juga mulai berkembang, terutama di wilayah perkotaan. Lebih mengejutkan, beberapa kasus obesitas ditemukan sejak usia kanak-kanak. Di Malaysia, Cina, dan Jepang, sekitar 5-17 persen kasus obesitas terjadi pada golongan usia yang relatif muda, yaitu 6-14 tahun.

Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan bobot badan sebesar 20 persen di atas standar. Obesitas diduga ikut menjadi penyebab penyakit hipertensi, jantung koroner, diabetes melitus, dan penyakit pernapasan.

Penyebab obesitas ada yang bersifat endogenous, yang berarti adanya gangguan metabolik di dalam tubuh, dan ada pula yang bersifat exogenous, yaitu konsumsi energi yang berlebihan, salah satunya adalah lemak hewani. Di dalam 0,5 kg lemak tubuh penderita obesitas diperkirakan tersimpan energi sebesar 3.500 kilokalori. Satu kali mengonsumsi burger berarti kita memasok energi sekitar 1.000 kkal, sedangkan kebutuhan energi dalam sehari hanya berkisar 2.000 kkal.

Selain obesitas, konsumsi daging yang berlebih juga dapat menyebabkan penuaan dini (early aging). Menurut beberapa penelitian, pemasakan daging sapi maupun daging ayam dapat menyebabkan terbentuknya senyawa AAH (amina-amina heterosiklis). AAH adalah zat penyebab mutasi genetik yang dapat merangsang munculnya radikal bebas dan secara luas merusak DNA pada sel-sel tubuh manusia.

Berbagai penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa AAH mengakibatkan aneka kanker, seperti kanker usus besar, payudara, pankreas, hati, dan kandung kemih. Berdasarkan penelitian di University of North California, konsumsi hot dog maupun hamburger sebanyak sekali atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko kanker otak dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.

Selain itu, kadar garam natrium yang sangat tinggi pada burger juga berpotensi menyebabkan penyakit hipertensi. Kandungan natrium (Na) pada burger berkisar antara 1.250-2.250 mg per 100 gram bahan, padahal kebutuhan natrium per hari rata-rata hanya 2.300 mg. Tingginya kadar natrium pada burger berasal dari pemakaian garam dapur (NaCl) dan penyedap masakan (monosodium glutamat).

Cemburuan Berimbas Pada Anak

BANYAK pasangan suami-istri lupa, sifat cemburu, apalagi yang obsesif, bisa berdampak buruk bagi anak-anak. Salah satu yang sering terjadi, anak akan menjadi sasaran pelampiasan kekesalan.

"Akibatnya, anak merasa tak aman. Padahal, itu sesuatu yang sangat fundamental bagi anak," ujar Jacinta F Rini, Msi dari e-psikologi.com.

Anak merasa tak punya basic trust di rumah. "Papa enggak percaya sama Mama. Jangan-jangan, mereka tak percaya juga sama saya." Dalam jangka panjang, anak yang melihat orang tuanya selalu penuh kecurigaan, akan meniru perilaku yang sama. Atau malah sebaliknya, acuh pada perasaan itu.

"Ini juga enggak sehat. Anak akan tumbuh dan belajar, 'Kalau saya mau sukses, saya harus seperti ayah.' Ia akan serap pola ayahnya untuk berelasi dengan orang lain. Terutama pada istri atau pacarnya, karena ia melihat, dengan cara itu, everything is oke." Celaka, kan?

Tepatkah Waktu Bercinta Anda?

1. Di bulan puasa, biasanya Anda berdua memilih waktu:

a. Yang membuat kami nyaman dan tidak terburu-buru, selain juga tidak mengganggu ritual ibadah.

b. Jika ada waktu, kapan pun dan sesedikit apa pun, kami langsung memanfaatkannya untuk bercinta.

c. Bercinta di bulan puasa? Jarang tuh, selain capek kami juga lebih konsentrasi pada ritual ibadah.



2. Anda baru pulang bekerja pukul 23.00, lalu pasangan mengajak berintim-intim, reaksi Anda:

a. Segera menolaknya dan mengatakan, badan lelah dan empat jam lagi harus menyiapkan santap sahur.

b. Langsung melayaninya.

c. Minta istirahat sebentar. Setelah segar kembali langsung mengatakan, "Ya... ya... ya...!"



3. Waktu menunjukkan pukul 17.00, telepon Anda tiba-tiba berdering, si dia mengajak berbuka bersama di sebuah tempat romantis. Padahal, pekerjaan Anda belum selesai, sikap Anda:

a. Segera menghentikan aktivitas pekerjaan, lalu merancang buka puasa yang menyenangkan buat berdua.

b. Membatalkannya, lalu meminta pasangan mengubah jadwal buka puasa bersama menjadi esok hari.

c. Segera menolaknya karena banyak pekerjaan. Toh, buka bersama bukan hal istimewa.



4. Di Bulan puasa, apakah Anda memiliki jadwal tetap dalam melakukan aktivitas seksual bersama pasangan?

a. Tidak ada, disesuaikan dengan gairah masing-masing.

b. Ya, biasanya saat kami berdua nyaman dan badan bugar.

c. Tidak ada. Kami jarang berintim-intim di bulan puasa.



5. Mana kalimat yang paling tepat buat Anda?

a. Quick sex merupakan solusi seiring dengan keterbatasan waktu di bulan puasa.

b. Kami berdua mengerti, bulan puasa bukan waktu tepat untuk banyak berintim-intim.

c. Selepas melakukan ritual ibadah, tepatnya seusai Tarawih dan sebelum sahur. Waktunya panjang kami pun tidak terburu-buru.



6. Selepas sahur dan mendekati waktu subuh, tiba-tiba pasangan memberi kode untuk berintim-intim. Situasi sangat mendukung karena anak-anak sedang menginap di rumah pamannya, sikap Anda:

a. Menolak dengan halus karena khawatir terburu-buru dan tidak dapat berkonsentrasi. Bukankah beduk subuh sebentar lagi berbunyi?

b. Segera memarahi pasangan karena dianggap tidak tahu waktu.

c. Dengan semangat 45 langsung mengiyakan. Bukankah seks terburu-buru justru sangat menggairahkan?

7. Apakah Anda merupakan tipe yang sulit menolak keinginan pasangan untuk berintim-intim?

a. Ya. Meski terpaksa, saya tidak mau mengecewakan pasangan.

b. Ya, tapi saya tidak terlalu memaksakan, juga meminta pengertian jika kondisi badan benar-benar letih atau tidak bisa menunda pekerjaan penting.

c. Tidak. Bukankah istri juga berhak menolak?



8. Apakah banyaknya ritual ibadah mengganggu kehidupan seksual Anda di bulan puasa?

a. Ya

b. Tidak

c. Kadang-kadang



9. Kondisi tepat untuk bercinta:

a. Di saat tubuh bugar, cukup istirahat, dan tidak mengganggu ritual ibadah.

b. Kapan pun selama pasangan mau.

c. Tergantung mood pasangan.



10. Apa yang dilakukan jika Anda merasakan waktu yang dipilih pasangan tidak tepat?

a. Membiarkannya, toh saya tidak dapat menolak.

b. Menolaknya dengan halus tanpa menghilangkan kemesraan dengan pasangan.

c. Memasang muka dingin dan cuek, toh dia akan mengerti sendiri.



PEROLEHAN



1. A = 3 B = 2 C = 0

2. A = 1 B = 2 C = 3

3. A = 3 B = 2 C = 0

4. A = 2 B = 3 C = 1

5. A = 2 B = 0 C = 3

6. A = 3 B = 0 C = 2

7. A = 2 B = 3 C = 1

8. A = 0 B = 3 C = 2

9. A = 3 B = 2 C = 1

10. A = 2 B = 3 C = 0



Hasil:



20–30

Bagi Anda, kepuasan bercinta untuk berdua adalah hal utama. Bulan puasa tidak membuat Anda puasa bercinta. Anda juga begitu cermat memilih waktu tepat bercinta di bulan puasa. Puasa dan ibadah ritual lancar, aktivitas bercinta pun tetap oke.



10-20

Puasa tidak mengganggu aktivitas Anda berintim-intim. Sayang, waktu yang dipilih kadang kurang tepat. Setelah berbuka, misalnya, dapat membuat aktivitas bercinta tidak nyaman karena perut masih penuh setelah berbuka. Demikian juga bila mendekati sahur, dimana ibadah puasa Anda bisa terganggu gara-gara kebablasan bercinta. Quick sex memang menyenangkan, tapi sebaiknya jangan terlalu sering karena dapat mengecewakan pasangan.





Menurut Anda, bulan puasa berarti juga puasa bercinta, sehingga Anda pun membatasi bahkan menghindari aktivitas seks. Anda juga cukup kaku dalam melakukan aktivitas bercinta, yang harus serbaterjadwal dan mengikuti mood pasangan. Saran kami, bersikaplah lebih fleksibel. Kasihan si dia lo!

Kaki Panjang dan Risiko Sakit Jantung

RISIKO terkena gangguan jantung pada pemilik kaki panjang lebih kecil dibanding pemilik kaki pendek. Ini menurut penelitian di University of Bristol, Inggris, yang dipimpin oleh Dr. Kate Tilling.

Kata para periset, data dari 12.254 pria dan wanita berumur antara 44-65 tahun yang diteliti, ditemukan adanya hubungan langsung antara panjang kaki dan intimal-medial thickness (IMT), suatu ukuran untuk ketebalan dinding pembuluh darah yang digunakan untuk deteksi awal adanya gangguan aterosklerosis.

Aterosklerosis adalah kondisi dinding pembuluh darah mengeras karena plak dan kotoran, sehingga bisa menyebabkan tersumbatnya aliran darah.

Diketahui, semakin panjang kaki seseorang, semakin tipis pula tumpukan lapisan di dinding pembuluh darahnya. Keadaan ini mengindikasikan sedikitnya penumpukan plak dan kotoran di dalam pembuluh darah dan rendahnya risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

Menurut Tilling dan timnya dalam laporan di American Journal of Epidemiology, panjangnya kaki sangat dipengaruhi oleh masa-masa awal kelahiran. Sebagai misal, berbagai pengkajian menghubungkan antara pemberian ASI, pola makan penuh energi di usia 2-4 tahun, dan pengaruh ketersediaan gizi pada masa kanak-kanak dengan kaki yang lebih panjang.

Untuk meneliti apakah panjangnya kaki mempunyai hubungan dengan gejala-gejala awal penyakit jantung dan pembuluh darah – yang akan menunjang pendapat yang mengaitkan adanya hubungan antara faktor kehidupan di awal kelahiran dengan kejadian serangan jantung dan risiko stroke – para peneliti membandingkan panjang kaki dengan IMT pembuluh pada pria dan wanita yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut. Peneliti menentukan panjangnya kaki dengan cara mengurangi tinggi seseorang saat berdiri dengan tinggi saat mereka duduk.

Dari situlah diketahui bahwa panjangnya kaki berhubungan langsung dengan IMT. Tilling bersama tim menyimpulkan penelitian ini.

“Menunjang hipotesis bahwa faktor hidup di awal kelahiran seperti minum ASI, kecukupan gizi, dan pertumbuhan masa remaja yang sempurna, bisa mengurangi risiko terkena penyakit kardiovaskular.”

Kamis, 09 Oktober 2008

Penderita Darah Tinggi Meningkat Usai Lebaran

Jumlah penderita penyakit tekanan darah tinggi, diare dan kelelahan meningkat di Balikpapan usai liburan (cuti bersama) pada Lebaran 1429 H.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan Dyah Muryani di Balikpapan, Selasa mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan Puskesmas di "Kota Minyak" itu jumlah penderita tiga jenis penyakit itu meningkat tajam.

Namun, dia mengaku belum bisa memberikan data pasti, yang jelas semua Puskesmas di Balikpapan melaporkan bahwa jumlah penderita tiga jenis penyakit itu jumlahnya meningkat tajam usai Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

"Faktor penyebab, kemungkinan pola makan yang kurang baik. Setelah satu bulan berpuasa, banyak warga yang kemudian ingin mencicipi apa saja makanan kegemarannya," imbuh dia.

Faktor kelelahan dalam perjalanan libur Lebaran 2008, diperkirakan juga menjadi pemicu naiknya tekanan darah tinggi dan sakit kelelahan.

Kelelahan karena mempersiapkan kondisi rumah untuk menerima tamu saat menghadapi Lebaran juga menjadi pemicu naiknya tekanan darah tinggi.

"Saat silaturahmi, banyak makanan mengandung kolestorol tinggi yang disajikan, ini juga menjadi penyebab naiknya tekanan darah tinggi," imbuh dia.

Khusus diare, ia menjelaskan bisa jadi karena warga banyak mengkonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kondisi perut sesuai puasa selama satu bul