Sabtu, 06 September 2008

Hindari Thalasemia, Skrining Pranikah Perlu Dilakukan

Penyakit kelainan darah memerlukan biaya besar untuk mengobatinya. Padahal tidak semua penderita kelainan darah adalah orang yang mampu secara ekonomi. Deteksi dini dengan skrining perlu dilakukan terutama sebelum proses pernikahan terjadi.

Selain skrining pranikah juga perlu pendataan sehingga dapat menghindari kemungkinan lahirnya anak-anak yang menderita thalassemia, kata Prof Dr dr Iskandar Wahidiyat SpA(K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /RSCM Jakarta pada pada seminar Hematologic Diseases di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu (6/9).

Thalassemia adalah kelainan darah karena kurangnya hemoglobin sehingga penderitanya harus melakukan transfusi darah sekali dalam sebulan. Akibat transfusi darah yang berulang, mereka jadi kelebihan zat besi yang bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung dan kelenjar hormon. Untuk mengeluarkan zat besi ini, mereka harus melakukan pengobatan melalui suntikan.

Menurut dr Pustika Amalia Wahidayat SpA(K) dari Divisi Hematologi-Onkologi RSCM, obat-obatan oral bagi penderita thalassemia sangat mahal. Dibutuhkan Rp 8,8 juta per bulan per anak. Dan pengobatan itu harus dilakukan seumur hidup.

Suntik pompa kelasi besi (untuk mengeluarkan besi di dalam tubuh penderita thalassemia) harus dilakukan 8-12 jam per hari, 5-7 kali seminggu. Belum ada komitmen pemerintah, padahal 5 persen populasi Indonesia merupakan carier penyakit thalassemia. Penyakit ini bisa dicegah dengan pemeriksaan prenatal, kata Pustika Amalia.

Organ penting

Darah adalah organ yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh dimana darah bekerja di dalam sistem kardiovaskuler. Selain itu, darah juga berfungsi di dalam sistem kekebalan serta hemostasis tubuh. Karena itu, berbagai jenis kelainan darah dapat mengganggu fungsi dalam tubuh, misalnya penyakit thalassemia, hemofilia, leukimia dan Idiopatik Trobositopenia Purpura.

Kini diperkirakan lebih dari 2.000 penderita thalassemia baru per tahun di Indonesia. Sampai saat ini thalassemia belum dapat disembuhkan namun diperlukan deteksi dini untuk memperpanjang usia. Thalassemia dapat dicegah dengan dilakukan screening pranikah.

Sedangkan Hemofilia, Prof Dr dr Moeslichan MZ SpA(K) mengatakan bahwa hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah. Penyakit ini diturunkan melalui kromosom X secara resesif, karena itu umumnya diidap oleh anak lelaki.

Ada dua bentuk penyakit hemofilia, yaitu hemofilia A apabila terjadi kekurangan faktor pembekuan darah FVIII dan hemofilia B apabila terdapat kekurangan faktor pembekuan darah FIX. Hemofilia A dijumpai satu di antara 10.000 penduduk, hemofilia B dijumpai satu di antara 50.000 penduduk.

Pada saat ini diperkirakan ada sekitar 350.000 penduduk dunia penderita hemofilia. Di antara mereka hanya 30 persen yang memperoleh pengobatan adekuat, sehingga mereka dapat mencapai harapan hidup yang normal.

Biaya kesehatan pengelolaan hemofilia di berbagai dunia tergolong besar. "Sekali suntik dua botol diperlukan biaya Rp 2,5 juta. Padahal suntikan harus dilakukan dua kali per minggunya," kata Moeslichan.

Ia memaparkan, pada tahun 2005 baru berhasil didaftar sebanyak 895 penderita hemofilia di Indonesia dari sekitar 20.000 penderita yang diperkirakan dari 200 juta penduduk Indonesia. Rendahnya pencatatan ini kemungkinan karena sebagian penderita tidak terdiagnosis, sehingga berakibat kematian usia dini. Di samping itu tidak menutup kemungkinan di Indonesia terdapat suatu varian yang sangat ringan sehingga luput dari diagnosis. Karena itu perlu diteliti lebih lanjut.

Terapi Oksigen Sebabkan Sesak Napas Pada Bayi

MESKI bermanfaat bagi tubuh ternyata oksigen bisa juga membahayakan bagi tubuh. Selain berpotensi menimbulkan terlepasnya elektron bebas yang reaktif atau yang dikenal dengan radikal bebas, berlebihnya oksigen dalam tubuh atau yang kerap dikenal hyperoxia (biasanya disebabkan oleh terapi oksigen) dapat menyebabkan sesak nafas pada bayi.

Demikian diungkapkan dalam Jurnal European Respiratory. Sebelumnya pernah diteliti dan ditemukan ditemukan bahwa kerapnya kejadian hiperoxia akan memengaruhi kemampuan otot dalam menyerap oksigen, terutama bagi bayi yang baru lahir hingga menyebabkan terjadinya henti napas (yang dikenal sebagai apnea).

Dr. F. Lofaso dari Rumah Sakit Raymond Poincare, Garches, Perancis dan timnya meneliti efek berulangnya hiperoxia ini dengan mengamati proses pernafasan pada bayi tikus yang kondisinya sama dengan bayi manusia yang baru lahir.

Dalam uji coba itu diketahui, berulangnya kejadian hiperoxia menyebabkan melambatnya sistem pernafasan. Lebih jauh lagi, hiperoxia dikaitkan dengan dengan meningkatnya lama serangan apnea.

Kabar baiknya, efek dari serangan apnea ini dapat hilang setelah beberapa menit menghirup udara bebas. Penemuan ini merekemondasikan bahwa ternyata butuh pengawasan yang lebih ketat bila kita ingin menggunakan terapi oksigen, terutama bila pemberian oksigen ini dilakukan secara berulang, pada masa-masa awal kelahiran bayi terutama pada bayi prematur.

“Bayi yang mendapatkan terapi oksigen harus dimonitor kadar oksigen dalam darahnya untuk mencegah meningkatnya kadar oksigen terlalu tingi ataupun terlalu rendah,” kata Lofaso.

Nestle Bagikan 54.000 Buku Pengetahuan Nutrisi

Untuk mengantisipasi anak-anak gizi kurang dan gizi buruk, pengetahuan orangtua soal nutrisi dan tumbuh-kembang anak harus ditingkatkan. Ketidakpedulian orangtua terhadap tumbuh kembang anak memicu tingginya potensi anak mengalami gizi buruk. Saat ini dilaporkan empat juta anak Indonesia penderita kurang gizi terancam merosot kondisinya ke gizi buruk jika tidak ditangani semestinya.

Pakar Gizi Nestle Indonesia Erika Wasito mengatakan hal itu, Jumat (5/9) di Jakarta, setelah Nestle Indonesia selama dua bulan terakhir membagi-bagikan buku Medutainment: Senangnya Hatiku Waktu Makan Tiba secara gratis sebanyak 50.000 eksemplar ke rumah-rumah sakit di seluruh Indonesia dan 4.000 eksemplar disebarkan di empat kota besar (Surabaya, Medan, Makassar, Medan, dan Bandung) melalui ibu-ibu gerakan PKK.

Sebelumnya, dalam seminar peluncuran Nestle Dancow Batita, ahli gizi anak dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ali Khomsan MS mengungkapkan, kondisi empat juta anak Indonesia yang mengalami gizi kurang sungguh mengkawatirkan. Hal ini disebabkan dari 250.000 posyandu, yang aktif kurang dari 50 persen. Sementara pemerintah hanya mampu menangani 39.000 anak gizi buruk per tahun.

Erika Wasito menjelaskan, jika perilaku orangtua yang tidak peduli perkembangan berat badan anak dalam tiga bulan terakhir tidak diubah, potensi anak mengalami gizi buruk mencapai 70 persen. "Kebanyakan ibu-ibu tidak memperdulikan timbangan anak. Padahal, kalau dalam dua bulan berturut-turut tidak mengalami kenaikan berat badan, harus segera dicurigai mengalami gizi buruk, " ujarnya.

Agar ibu-ibu atau orangtua punya pengetahuan soal nutrisi, Nestle Indonesia melalui program Nestle Cerelac Turut Cerdaskan Para Ibu dan Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup Buah Hati Indonesia, membagi-bagikan buku Medutainment: Senangnya Hatiku Waktu Makan Tiba, dengan harapan dapat mendorong para ibu mengembangkan ide-ide kreatif bagi buah hati masing-masing dalam mendorong dua hal yang paling penting dalam tumbuh kembang anak, yaitu nutrisi dan simulasi.

Dalam buku itu antara lain diungkapkan, di awal penyapihan (usia 6 bulan) kebutuhan 70-80 persen nutrisi bayi dipenuhi dari Air Susu Ibu (ASI), dan sisanya 20-30 persen dari makanan padat.

Seiring bertambahnya usia, perbandingan bergeser hingga usia 1 tahun, di mana ASI memenuhi 20-40 persen kebutuhan, dan 60-80 persen dipenuhi dari makanan padat.

Saat usia 24 bulan, kebutuhan dipenuhi dari makanan keluarga. Perubahan makanan padat terjadi dalam hal tekstur (halus hingga kasar), kondistensi (lunak hingga padat), porsi dan frekuensinya sesuai dengan kemampuan dan perkembangan buah hati.

Setiap anak, lanjut Erika, memiliki keunikan dalam kecepatan dan pencapaian tumbuh kembangnya. Pada saat makan, si buah hati idealnya bukan hanya memperoleh asupan berbagai nutrisi untuk pertumbuhan fisiknya, tetapi juga menerima berbagai stimulasi yang mampu merangsang perkembangan mental dan intelektualnya.

"Yang utama bagaimana orangtua dapat membuat waktu makan menjadi saat yang istimewa dan menyenangkan untuk si kecil, sehingga ia bisa menjadi anak yang sehat, cerdas, dan selalu ceria," katanya.

Dalam konsep Medutainment, makan harus menjadi momentum entertainment bagi sang anak maupun ibu. sehingga saat makan adalah saat berinteraksi yang penuh keceriaan bersama buah hati.

Selain membagi-bagikan buku pengetahuan soal nutrisi secara gratis, Nestle Cerelac bekerjasama dengan sejumlah pasar swalayan, juga menggelar Meduatainment Zone. Medutainment Zone merupakan acara bagi para orangtua dalam memperoleh informasi dan tips seputar tumbuh-kembang anak yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan, melalui tiga zona, yaitu Meal Zone (dapur ibu cemerlang dan info saji nutrisi), Education Zone (talkshow dan pelatihan, games tumbuh kembang), dan Entertainment (bingkai cinta cemerlang, mucic corner, kids play ground).

Usia Di Atas 40 pun Bisa Lasik

DALAM waktu 1 dekade keberadaannya, fenomena bedah Lasik cukup menarik perhatian di berbagai negara dunia, salah satunya Singapura, yang jumlah penderita rabunnya cukup tinggi. Tak heran bila di negeri ini ada banyak permintaan operasi LASIK.

Meski informasi dan iklan perihal LASIK sudah banyak beredar beredar, masih ada masyarakat bahkan dokter mata yang belum mengetahui benar tentang LASIK. Banyak kesalahapahaman, mitos dan keraguan yang muncul. Kebingungan yang biasanya muncul seputar keuntungan LASIK dan proses bedah refraktif itu sendiri.

Apakah yang dimaksud dengan LASIK laser, tanpa pisau?
Tipe bedah LASIK seperti ini menggunakan jenis laser femtosecond untuk membuka kornea. Dengan menggunakan mikro keratom mekanikal, komplikasi yang terjadi saat pembukaan kornea sangat kecil. Bukaan kornea yang terlalu kecil dan tidak beraturan akan menyulitkan proses tahap kedua LASIK untuk dilaksanakan.

Maka hadirlah, teknik terbaru menggunakan laser femtosecond. Kecil, dengan detak infra red yang pendek sehingga memungkinkan keakuratan di dalam kornea. Dengan hadirnya laser berjenis unik ini, bukaan pada kornea menjadi semakin mulus dna tidak berbekas pada saat sembuh nanti. Semakin baiknya pembuatan bukaan ini, maka semakin baik pula pandangan mata yang dihasilkan.

Bisakah usia di atas 40 tahun melakukan LASIK?
Mereka yang memiliki mata rabun pada usia 40an dan perlu menggunakan kacamata untuk membaca, bisa jadi akan diminta untuk tetap menggunakan kacamata setelah operasi LASIK. Meskipun hingga kini belum ada metode yang tidak mengharuskan pasien usia 40an menggunakan kacamata lagi, kondisi ini bisa dikurangi dengan serangkaian prosedur LASIK lainnya yang dikenal dengan "slight monovision".

Prosedur ini, yang sama persis dengan prosedur LASIK untuk memperbaiki pandangan jauh, dilakukan pada mata dominan agar dapat melihat jauh, sementara mata yang tidak dominan, akan tetap perlu menggunakan kacamata baca. Hal ini memberikan efek yang sama ketika pasien menggunakan bifocal.

Sebagian besar pasien memilih prosedur ini karena dapat membantu pandangan jauh mereka, namun sebagin lainnya merasa sulit membiasakan diri dengan kondisi sepasang mata yang berbada-beda. Hal ini bisa dilakukan beberapa hari setelah operasi di mana pasien dapat menggunakan lensa kontak pada mata yang tidak dominan.

Perlu diketahui, selama 20 tahun, Singapore National Eye Center (SNEC) telah menangani berbagai masalah kesehatan mata baik untuk pasien dari Singapura ataupun pasien dari negara lain. Mulai dari katarak hingga penyakit kornea dan retina lainnya yang dapat membutakan. Hal ini telah menjadikan SNEC sebagai rumahsakit mata yang berkembang pesat dengan standar kelas dunia. Kini SNEC menangani 250.000 pasien rawat jalan, termasuk 16.000 pasien asing dan melakukan 14.000 bedah besar pada mata dan 13.000 bedah laser setiap tahunnya.

LASIK : Bye bye Kacamata!

MESKI kelihatannya keren, menggunakan kacamata juga lensa kontak kerapkali membuat kita tidak nyaman dan bebas. Kacamata bahkan bisa jadi memperburuk penampilan kita.Sekarang, Anda tak perlu khawatir dengan persoalan ini.

LASIK atau laser in-situ keratomileusis, merupakan jenis prosedur bedah yang menjadi sebuah fenomena jaman ini, karena dapat memperbaiki mata bermasalah seperti rabuh jauh, rabun dekat serta kelainan mata lainnya dalam waktu singkat. Tak heran bila prosedur ini makin diminati karena aman, efektif, cepat sembuh dan rendahnya tingkat kerisihan.

Artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai LASIK dan apa saja prinsip dasarnya. Tentunya agar masyarakat tidak lagi ragu dan mengetahui dengan benar apa itu LASIK dan seperti apa prosedurnya.

Apakah LASIK itu?
LASIK muncul dari pengembangan berbagai teknik bedah refraktif. Intinya, ada 2 tahap proses LASIK. Pertama, membuat bukaan kecil tipis pada kornea dan yang kedua adalah tahap merancang ulang kornea dengan membuang sebuah jaringan di kornea menggunakan laser. Bukaan kornea kemudian ditutup kembali dan direkatkan hingga proses penyembuhan selesai.

Pengerjaan dasar dari menciptakan bukaan LASIK pada kornea diawali pada tahun 1950-an, ketika ditemukannya microkeratome, sebuah pisau metal mekanikal yang digunakan untuk membuka kornea. Selama bertahun-tahun, microkeratome terus disempurnakan hingga kini, proses pembukaan kornea menjadi aman dan nyaman.

Penemuan teknologi kedua untuk LASIK muncul pada tahun 1980 dimana ditemukan laser ultraviolet yang dapat menggores suatu jaringan secara tepat tanpa merusak jaringan lain di sekitarnya. Dua tahun kemudian, potensi dan fungsi dari laser ini dalam bidang bedah diumumkan.

Bagaimana Cara Kerja LASIK?
Kornea memegang peranan penting dalam LASIK karena kornea memegang hampir seluruhnya kekuatan pembiasan pada mata, dimana sumber kekuatan mata yang lain datang dari lensa kristal jernih mata yang alami. Oleh karena itu, memodifikasi bentuk kornea juga berarti merubah status pembiasan pada mata. Inilah prinsip dasar dibalik operasi LASIK serta pembedahan refratif lain pada kornea.

Untuk mengobati rabun jauh (myopia), bagian tengah kornea digepengkan untuk mengurangi kemampuan pembiasan kornea. Untuk mengobati rabun dekat (hyperopia), bagian kornea dipertajam untuk meningkatkan kemampuan pembiasannya. Untuk mengobati kelainan mata seperti pandangan yang tidak jelas (astigmatism), lekukan kornea yang berjarak 90 derajat dari porosnya dibuat sama dan seimbang.

Saluran Kencing Bengkak? Dibotox Aja!

SALURAN kencing yang bengkak kerapkali merepotkan. Penderitanya sering merasa tidak mampu menahan air kencing dalam kandung kemih, sehingga air kencing tidak bisa dikendalikan.

Meski kerapkali pengobatan untuk mengatasi masalah tak pernah bisa berhasil, ada cara lain yang efektif. Teknologi medis saat ini berkembang pesat. Botox yang tadinya digunakan untuk mengencangkan wajah sehingga terlihat muda ternyata bisa digunakan di bidang urologi.

Botox juga bisa digunakan untuk mengobati pembengkakan saluran kencing. Dalam berbagai pengobatan, botox telah terbukti efektif mengatasi gangguan ini dengan komplikasi minimal. Di Swiss, para pasien melaporkan keadaan lebih baik setelah menerima beberapa injeksi Botox ke otot kandung kemih dalam kurun waktu satu tahun.

Urin yang tidak bisa dikendalikan adalah umum di antara bagi para lansia dan terjadi setidaknya pada satu dari 10 orang berusia 65 ke atas, seperti yang di ungkapkan Institut Usia Lanjut Nasional di Amerika.

Meski demikian, menurut Badan Riset dan Kebijakan Layanan Kesehatan di Amerika, pembengkakan saluran kencing tidak hanya dialami oleh para lansia saja. Orang muda pun kerap juga mengalami hal ini dengan berbagai kondisi.

Kondisi ini memang bisa memalukan dan jika tidak ditangani, akan terjadi gatal dan infeksi kulit, serta kegelisahan dan depresi. Ada baiknya Anda mengerti mengenai penyakit ini agar bisa diobati ataupun dicegah agar hidup menjadi lebih nyaman.

Pria ataupun wanita bisa mengalami kondisi ini. Pada wanita risiko menderita gangguan ini dua kali lipat dibanding pria. Kemungkinan besar karena kehamilan, melahirkan, menopause serta struktur saluran air kencing pada wanita.

Mengapa Terjadi?
Sebagian besar penyebab pembengkakan saluran kencing hanya sementara. Ini meliputi infeksi saluran kencing, infeksi vaginal, sembelit dan efek samping obat tertentu. Menurut situs Health A to Z, terlalu banyak kafein dan makanan yang menstimulasi kandung kemih serta minuman seperti susu atau produk susu, gula, coklat, tomat, rempah-rempah, buah jeruk , jus, dan minuman berkarbohidrat juga menjadi faktor penyebabnya.

Bisa juga disebabkan oleh kondisi medis seperti lemahnya otot pelvis, kandung kemih atau kelompok otot urethral sphincter yang mengencang dan merenggang saat air buang air kecil, terhalangnya saluran urethral pada pria akibat membesarnya prostat, kurangnya hormon para wanita, stroke, mobilitas terbatas dan pikun.

Bermesraan di Tempat Umum, Saru atau Seru?

APAKAH Anda termasuk pasangan suami-istri yang suka bermesraan di tempat umum? Bagaimana kata pakar?

Kalau Anda penggemar serial Friends atau Sex in The City, tentu Anda tidak asing dengan adegan mesra di tempat umum yang dipertontonkan sepanjang 2 serial tersebut. "Seru juga kali ya berciuman sambil nunggu cucian di tempat laundry seperti yang dilakukan Ross dan Rachel dalam Friends?" Begitu komentar seorang ibu muda. "Ih, seru gimana? Itu mah bukan budaya kita. Kayak enggak ada tempat lain aja," sanggah temannya.

Pada dasarnya, insting untuk "menyentuh" dan "disentuh" adalah naluri primitif dan alamiah yang dipunyai setiap manusia. Norma sosiallah yang kemudian membatasinya. Kalau zaman manusia purba, di mana pun hasrat itu muncul, boleh jadi di tempat itu pula mereka menuntaskannya. Namun seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, muncullah kesepakatan-kesepakatan bersama mengenai apa saja yang boleh dan mana yang tidak. Tentu saja, beda budaya, beda pula batasannya.

"Tapi bahwa hasrat itu bisa muncul kapan saja, sekali lagi itu bagian dari insting manusia yang wajar dan alamiah sekali," kata Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, Sp.RM, MKes (MMR)., seksolog dari RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

Menurut Ferryal, mereka yang bisa mengerem dan tidak melakukannya di tempat umum, sebetulnya lebih karena kuatnya tekanan moral dari dalam dirinya maupun lingkungannya. Jadi, bukan berarti keinginannya lenyap. Sebagai perbandingan, orang yang sama bisa menahan hasratnya di sini, tapi ketika lingkungan mendukung, misalnya sedang cuti ke luar negeri, belum tentu hasrat tersebut masih akan ditahannya.

PAMER VS KEPUASAN

Lalu bagaimana membedakannya, apakah semata hasrat seksual atau ada kelainan seksual yang dikenal dengan istilah exhibitionism atau eksibisionis? Menurutnya, kalau hanya diamati sepintas, tentu sulit sekali. Seorang eksibisionis akan mendapat kepuasan, bahkan beberapa di antaranya sampai orgasme bila aktivitas pribadinya ini dilihat orang lain. Namun perasaan puas ini harus dikaji lebih jauh, apakah kepuasannya karena dilihat orang, atau karena hasrat seksualnya tersalurkan. Jadi, tidak adil jika hanya dengan sekali melihat langsung menuding pasangan yang berasyik-masyuk di ruang tunggu bioskop sebagai eksibisionis.

Lebih jauh Ferryal mengomentari Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi yang sempat diributkan beberapa waktu lalu. "Kalau menurut saya, hasrat seksual adalah hak tiap individu. Harusnya bukan dilarang dengan undang-undang, justru batasan moral yang harus lebih diefektifkan." Di luar negeri, lanjutnya, menghentikan orang yang sedang berciuman di pinggir jalan justru akan membuahkan tuntutan karena dianggap mengganggu privasi orang lain.

PRIBADI TERBUKA

Ditemui pada kesempatan terpisah, psikolog Ratih A. Ibrahim, Psi, MM., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI) menanggapi masalah ini. "Di tengah budaya masyarakat yang makin permisif, public display of affection atau mengumbar kemesraan di tempat umum sepertinya semakin longgar." Beberapa waktu lalu, kemesraan suami-istri yang dilakukan di depan anak pun dianggap tabu. Namun kini beberapa psikolog justru menganjurkannya meski dengan batasan-batasan tertentu.

Selain terkait dengan budaya setempat, keinginan untuk mengumbar hasrat sebetulnya tak lepas dari kepribadian seseorang. "Orang-orang dengan kepribadian ekstrovert atau terbuka, akan lebih mudah menerima dan melakukannya," ujar Ratih. Orang-orang seperti ini lebih gampang menembus sekat-sekat kasat mata yang diciptakan oleh manusia. Argumentasi mereka, "Lo memang kenapa kalau saya melakukannya? Toh saya tidak mengganggu orang lain?"

Di negara-negara Barat sebenarnya fenomena ini sudah selesai dibicarakan beberapa puluh tahun yang lalu. Menjadi masalah di sini karena sama-sama dominan antara masyarakat konservatif yang memandang hal ini sebagai degradasi moral dengan masyarakat liberal yang menganggapnya sah-sah saja. "Ini yang membuat masyarakat jadi ambigu. Di satu pihak, mereka bisa menerima hal ini sebagai sebuah pemahaman, tapi untuk diri sendiri masih cenderung konservatif."

Dengan bijak Ratih kemudian memulangkan penilaian terhadap masalah ini pada pribadi masing-masing. "Kalau setuju ya silakan jalan, tapi kalau tidak ya jangan lakukan. Yang penting tidak mengganggu orang lain," tandasnya.

MENIKMATI PUN TAK MASALAH

Lalu bagaimana bila pasangan gemar mengumbar kemesraan di tempat umum, sedangkan kita merasa jengah, apa yang harus dilakukan? Bagaimana pula jika sebaliknya? Baik Ratih maupun Ferryal menyarankan untuk mencari kompromi. "Jangan sampai satu pihak merasa puas, tapi pihak lain malah tertekan. Ini juga tidak sehat untuk kelangsungan kehidupan seksual keduanya," demikian Ferryal mempertegas.

Begitu pula bila tanpa sengaja kita menyaksikan pasangan yang tengah berasyik-masyuk di tempat umum. "Kalau memang tidak keberatan, ya tidak masalah," tukas Ratih. Namun bila merasa risih atau jengah, berikut beberapa langkah yang disarankannya:

* Segera menghindar

Langkah ini paling aman. Kalau memang tidak suka, pergi saja menjauh. Tidak ada yang dirugikan dengan tindakan ini.

* Melihat

Bila tidak ada tempat untuk menjauh, misalnya di ruang tunggu bioskop yang terbatas, mengapa tidak menyaksikannya sekalian? "Kalau di sini sih, orang biasanya masih malu dilihatin seperti itu," katanya.

* Menegur

Budaya Indonesia masih menganggap teguran untuk mereka yang mengumbar kemesraan di tempat umum sebagai hal yang wajar. Malah beberapa pihak merasa tugas tersebut sebagai bagian dari kewajiban moral. Namun sebelum menegur, pastikan bahwa hal tersebut tidak akan berbuntut masalah, sebab mungkin saja orang yang ditegur merasa terlanggar privasinya dan mengancam akan balik menuntut.

Secara ekstrem Ferryal malah mengatakan, "Tonton saja kalau memang tidak risih." Secara naluriah, manusia akan merasakan sensasi tersendiri. Bahkan ada yang mendapat kepuasan dengan menyaksikan adegan tersebut. Tidak ada yang salah dengan si penonton, normal saja kok kalau menikmatinya. Jadi, daripada ribut, mending nikmati saja kalau ada yang mengumbar adegan saru namun seru di tempat umum.