Selasa, 10 Juni 2008

Susu Plus Cemilan, Solusi Tidur Nyenyak

JIKA semasa kecil, ibu Anda sering memberi segelas susu hangat sebelum tidur malam, ia memang mengerti apa yang Anda butuhkan . Susu merupakan minuman yang kaya nutrisi dan akan membuat Anda tidur lebih nyenyak dan tenang.

Nah, menurut spesialis kesehatan umum dari Mayo Clinic Kenneth Berge, M.D, susu dan produk turunannya memang bisa dijadikan solusi dalam membantu Anda tidur nyenyak. Susu adalah salah satu sumber terbaik tryptophan, sejenis asam amino yang akan diubah tubuh menjadi dua jenis hormon yang membantu tidur yakni melatonin dan serotonin. Jenis makanan lain yang mengandung tryptophan adalah oat, pisang, daging unggas dan kacang.

Untuk membantu serta memperbesar peluang tidur nyenyak, Kenneth Berge juga menyarankan untuk mengonsumsi cemilan ringan dan sehat dengan komposisi terbesar karbohidrat dan sedikit protein. Kombinasi karbohidrat tinggi dan sedikit protei ini diyakini akan meningkatkan kemampuan tryptophan pada otak Anda, yang tentu membantu menghasilkan lebih banyak melatonin dan serotonin.

Berikut adalah contoh cemilan sehat yang membantu tidur :
* Semangkuk kecil oatmeal atau sereal dengan susu rendah lemak
* Yogurt dengan granola sprinkled
* Setengah porsi bagel atau crackers dengan selai kacang , 1 ons keju atau selembar deli turkey
* Irisan apel dengan 1 ons keju

Hindarilah terlalu banyak memakan protesin sebelum waktu tidur. Makanan yang kaya protein juga mengandung tyrosine, asal amino yang merangsang aktivtas otak.

Makanan yang harus dihindari jelang tidur :
* Makanan berat dan gurih, terutama jika Anda rentan terhadap heatburn atau nyeri ulu hati dan kepanasan seperti ditusuk-tusuk. Makan terlalu banyak juga bisa membuat Anda tidak nyaman secara fisik ketika tidur.
* Jangan banyak minum. Memasukkan banyak cairan ke dalam tubuh sebelum tidur akan membuat Anda bangun dan terjaga berulang kali karena harus ke kamar kecil .
* Alkohol. Meskipun awalnya akan membuat Anda ngantuk , alkohol dapat menyebabkan tidur tidak nyenyak dan membuat Anda terjaga.
* Kafein. Layaknya stimulan, kafein meningkatkan aktivitas sistem syaraf Anda yang menyebabkan Anda justru sulit tidur.

Kanker Payudara Kian Mengancam

KANKER payudara tampaknya makin menakutkan saja bagi para wanita. Mereka yang berpotensi mengalami penyakit ini diprediksikan akan terus meningkat. Bila tidak ada perbaikan signifikan dari faktor gaya hidup dan kemajuan teknik pengobatan, para ahli memperkirakan pada tahun 2024 nanti satu dari tujuh wanita akan terkena kanker payudara.

Proyeksi bakal meningkatnya jumlah penderita kanker payudara diungkap sebuah riset terbaru para ahli dari Genesis Breast Cancer Prevention Centre di Manchester, Inggris. Riset menyebutkan, faktor gaya hidup menjadi kunci dalam perkembangan kanker ini. Penelitian juga menyatakan, risiko para wanita yang membawa sejenis gen pemicu kanker payudara di Inggris telah meningkat secara dramatis dalam 60 tahun terakhir.

Di Inggris, saat ini diproyeksikan satu dari 10 wanita mengalami penyakit kanker payudara menjelang usia 80 tahun. Peneliti memperkirakan proyeksi ini akan meningkat menjadi satu dari tujuh wanita mengalami kanker dalam 16 tahun mendatang.

Untuk menekan pertumbuhan risiko kanker payudara, pimpinan riset Professor Gareth Evans menyarankan para wanita untuk menikah lebih awal serta mengindari penggunaan obat-obat hormon dan kontrasepsi dalam jangka panjang. Para ahli juga menganjurkan para wanita lebih rajin berolahraga dan menerapkan pola diet yang sehat.

Dalam risetnya, Evans melibatkan 1.442 wanita yang memiliki gen-gen pemicu kanker payudara, yakni BRCA1 dan BRCA2. Sekitar satu dari 500 orang diyakini memiliki gen yang telah bermutasi yang meningkatkan risiko kanker payudara hingga 85-90 persen.

"Peningkatan kasus kanker payudara ini terefleksi dalam populasi secara umum. Pada 1984 hanya satu dari 13 wanita diproyeksikan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Pada 2004, angkanya mencapai satu dalam 10, dan jika rata-rata ini meningkat diprediksikan pada 2024 nanti satu dari tujuh wanita di Inggris akan mengalami kanker payudara menjelang 80 tahun.

"Ini dapat diartikan bahwa akan ada tambahan korban 4.000 orang yang meninggal bila tidak ada perbaikan signifikan dalam hal pengobatan," ujar Evans yang juga memublikasikan risetnya dalam BMC Cancer Journal.

39,6 Persen Kekerasan Pada Anak Dilakukan Guru

Selama Januari hingga April 2008, jumlah kasus kekerasan terhadap anak berusia 0-18 tahun di Indonesia, terdata 95 kasus. Dari jumlah itu, persentase tertinggi, yaitu 39,6 persen diantaranya, dilakukan oleh guru.

"Mayoritas kekerasan yang dilakukan oleh tenaga pendidik ini adalah tindak percabulan, " ujar Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno, saat ditemui usai acara seminar di Universitas Muhammadiyah Magelang, Kamis (5/6).

Data ini didapatkan dari hasil laporan masyarakat serta pemberitaan yang muncul di media. Selain percabulan, tindakan lain yang menonjol adalah kekerasan fisik seperti memukul. Tahun lalu, kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru di Jawa Barat, bahkan m enyebabkan salah seorang muridnya tewas.

Dari data yang diperoleh, menurut Hadi, angka kekerasan yang dilakukan oleh guru, terlihat meningkat drastis. Sebab, pada tahun 2007, persentase kekerasan dari tenaga pendidik tersebut hanya mencapai 11,3 persen. Namun, dalam pantauan selama dua tahun ter akhir tersebut, korban terbanyak selalu berasal dari siswa SD dan SMP.

Dengan perkembangan kasus ini, diharapkan masyarakat terutama para orangtua murid dapat meningkatkan kewaspadaan dan lebih memperhatikan kegiatan belajar putra-putrinya. "Sebab, kenyataan yang terlihat dari kasus-kasus kekerasan itu membuktikan bahwa sekolah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, " ujarnya.

Hadi mengatakan, penyebab terjadinya tindak kekerasan oleh para guru tersebut, perlu diteliti lebih lanjut. Dimungkinkan, hal ini terjadi karena beban pekerjaan guru semakin berat dan tingkat stres yang dialami semakin tinggi. Dengan kondisi ini, mereka p un akhirnya lupa pada norma-norma dasar dan tugas utama melindungi murid.

Namun, bisa jadi, kasus ini sekaligus mengindikasikan bahwa tingkat pengawasan yang dilakukan oleh para kepala sekolah, orangtua murid, dan masyarakat sekitar sekolah, semakin lemah, paparnya. Angka kekerasan ini bisa akan terlihat mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli. Pola ini pun, perlu diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan lokasi kejadian, 29,6 persen kasus kekerasan yang dialami anak-anak terjadi di Jawa Barat dan 16,3 persen di Banten. Selain guru, pelaku kekerasan lainnya berada pada nomor urut kedua terbanyak adalah, sesama anak, 15,4 persen, dan aparat ata u oknum 12 persen.

Mengacu pada kondisi tersebut, Hadi mengatakan, diperlukan serangkaian langkah untuk menyelamatkan anak-anak. Dalam hal ini, pemerintah harus rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang hak-hak anak, memberikan hukuman yang berat bagi pelaku kej ahatan terhadap anak-anak, dan menerapkan kebijakan perencanaan pembangunan berbasis anak.

Selain itu, perguruan tinggi diharapkan pula berperan serta dengan melakukan pengkajian tentang hak anak dan perlindungannya. Di berbagai lembaga pendidikan mulai dari SD hingga SMA, diperlukan pula adanya model pembelajaran alternatif untuk membantu anak -anak bermasalah.

Susu Sapi, Ya Buat Anak Sapi!

DOKTER Anak dr. Attila Dewanti, Sp.A mengingatkan para ibu akan pentingnya Air Susu Ibu (ASI). Apalagi, ditengah kondisi lingkungan yang semakin tak bersahabat dengan kesehatan, ASI akan memberikan kekebalan pada tubuh anak. Manfaatnya, anak tidak akan rentan terhadap berbagai macam penyakit, kata dr. Attila, jangan buru-buru memutuskan memberikan susu sapi pada anak Anda.

"Anak kita anak manusia kan, Bu? Ya kalau anak manusia, dikasihnya ya susu yang juga berasal dari manusia, yaitu ASI. Kalau susu sapi, ya buat anak sapi. Betul kan? Tidak ada yang lebih baik dari ASI, walaupun anak kita diberikan susu formula yang paling mahal sekalipun," terang Attila dihadapan puluhan ibu, dalam seminar Pengaruh Global Warming Terhadap Kesehatan Anak, di Jakarta, Sabtu (7/6).

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran UI itu kemudian memaparkan, ASI ekslusif harus diberikan bagi bayi selama 6 bulan pertama tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, ataupun air putih. "Juga tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Setelah 6 bulan, baru mulai diberikan makanan pendamping ASI," lanjut dia.

Perbedaan susu pada ASI dan susu sapi, terletak pada kadar kandungan lemak, protein dan laktosanya. Kandungan ketiganya, lebih besar terkandung pada ASI dan akan mendukung ketahanan tubuh anak terhadap penyakit. Termasuk, akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Keuntungan psikologis pemberian ASI pada anak, akan menimbulkan ikatan emosional (emotional binding) antara ibu dan anak.

"Hubungan ibu dan bayi lebih erat dan penuh kasih sayang, ibu merasa lebih bahagia, bayi lebih jarang menangis, ibu berperilaku lebih peka dan lebih jarang menyiksa bayi. Untuk perkembangannya, anak akan menunjukkan uji kepintaran yang lebih baik," ujar Attila lagi.

Saranpun disampaikan Attila, untuk melindungi kesehatan dan menjaga tumbuh kembang anak secara baik di lingkungan yang semakin rentan penyakit. Diantaranya, seperti telah dipaparkannya yaitu pemberian ASI eksklusif, memberikan makanan dengan gizi seimbang dan imunisasi yang lengkap sejak baru lahir hingga dewasa.

"Pesan saya, kenali perubahan pada lingkungan kita. Karena selain genetik dan nutrisi, lingkungan juga akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak," kata Attila.

Anak Susah Makan? Jangan-jangan Trauma

SEORANG ibu muda, Dini, bingung. Putri bungsunya yang berusia 6 tahun berat badannya tidak pernah melewati angka 11 kilogram. Untuk anak seumur putrinya, ia melihat anaknya terlihat kurus dibanding teman-teman seusianya.

"Padahal, waktu lahir beratnya 3,3 kg, tergolong berat. Pas besar, kok badannya kecil dan pertumbuhan berat badannya segitu-gitu aja. Memang sih, dia susah makan dan pernah menjalani operasi usus. Saya coba berbagai cara untuk konsultasi dengan dokter, agar dia nggak susah makan, tapi belum ada hasilnya. Apa yang harus saya lakukan?" demikian curhat Dini, pada sebuah seminar tentang anak, di Jakarta, Sabtu (7/6).

Menanggapi pertanyaan dini, dokter anak yang hadir pada seminar tersebut, dr. Attila Dewanti Sp.A menyarankan agar dini melacak riwayat yang dimiliki anaknya. Attila mengatakan, salah satu faktor yang bisa menyebabkan anak susah makan, salah satunya adalah trauma.

Trauma seperti apa yang dimaksud? "Misalnya begini. Ada orang tua yang ingin asupan gizi anaknya baik, kemudian dikasih makan campuran ati, ikan, otak sapi, segala macam dicampur, karena yakin ini makanan paling sehat buat anak. Dan lupa untuk mencicipi, enak apa nggak ya rasanya? Ketika dirasakan anak makanan itu tidak enak dia (si anak) menjadi trauma dengan makanan. Jadi, sebaiknya sebelum memberikan makanan pada enak dicicipi dulu, enak atau tidak, jangan main kasih saja," jawab Attila.

Trauma lainnya, bisa juga disebabkan pada cara memberikan makan. Attila menjelaskan, ibu ataupun pengasuh anak terkadang tidak cukup memiliki kesabaran dalam memberikan makan pada anaknya. Akibatnya, seringkali anak dipaksa untuk membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan kepadanya.

"Mungkin saja, tanpa sepengetahuan ibu, pengasuh anak yang memberikan makan sedikit memaksa. Sehingga, ketika saat makan tiba si anak justru trauma karena pemaksaan itu. Kadang-kadang kita kan suka gemes ya, ih ni anak makan aja susah, terus dipaksa itu sendok masuk ke mulutnya. Jangan sampai seperti itu. Ciptakanlah suasana makan yang menyenangkan. Si anak jadinya senang saat waktu makan tiba. Atau bisa juga konsultasi ke psikolog, apa yang menyebabkan anak malas makan. Intinya, jangan dipaksa," kata Attila.

Saran dari Attila lainnya, perhatikan pola makan anak sejak bayi. Mulai usia 4-6 bulan, anak harus dikenalkan cara makan. Usia 6 bulan, diajarkan cara mengunyah dengan baik. "Jadi, makan itu ada tahapannya, lunak dulu, kemudian dua bulan berikutnya makan makanan yang padat tapi agak cair kemudian baru makan nasi. Sabar dengan tahapan-tahapan itu, jangan maunya cepet aja," ujar dia.

Boom! Autisme Terus Meningkat

PERKEMBANGAN autisme yang terjadi sekarang ini kian mengkhawatirkan. Mulai dari tahun 1990-an, terjadi boom autisme. Anak-anak yang mengalami gangguan autistik makin bertambah dari tahun ke tahun.

Di Amerika Serikat saat ini perbandingan antara anak normal dan autis 1:150, di Inggris 1:100, sementara Indonesia belum punya data tentang itu. Belum pernah ada survei mengenai data anak autis di Indonesia, kata Ketua Yayasan Autisme Indonesia dr Melly Budhiman SpKJ saat diskusi mengenai autisme di harian Kompas, 5 Mei 2008.

Melly Budhiman memaparkan, autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang terjadi pada anak di bawah umur 3 tahun. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku.

Autisme bisa terjadi kepada siapa saja, tidak mengenal etnis, bangsa, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan intelektualitas orangtua. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan yang mengalami gangguan autistik adalah 4:1. Kecerdasan anak-anak autis sangat bervariasi, dari yang sangat cerdas sampai yang sangat kurang cerdas.

”Jadi kalau dulu dikatakan kalau anak autis pasti anak-anak cerdas itu tidak benar, atau anak autis itu kebanyakan retardasi mental itu juga tidak benar,” kata Melly Budhiman.

Diagnosa ditegakkan secara murni secara klinis tanpa dengan alat pemeriksaan atau bantuan apa pun. ”Jadi kalau kita mendiagnosa anak autis murni secara klinis dengan anamnese, dengan tanya jawab itu harus sangat cermat: mulai dari kehamilan, kelahiran, dan masa kecilnya,” kata Melly Budhiman.

Sebelum 3 tahun

Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat, tentu saja dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Harus benar-benar diperhatikan kriteria diagnostik yang sudah disepakati oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi untuk mendiagnosa autis itu sudah ada kriterianya.

”Apakah ada gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi, juga perilaku. Kriterianya sebenarnya sudah jelas,” tegas Melly Budhiman.

Menurut Melly Budhiman, diagnosa itu harus sudah ditegakkan sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Sering kali orangtua datang ke dokter dan dokter menyatakan sebaiknya menunggu hingga usia anak sudah tiga tahun, itu artinya sudah terlambat.

Sebelum tiga tahun diagnosa sudah harus ditegakkan. Deteksi dari permulaan gejala sudah bisa dilakukan jauh sebelum umur tiga tahun. Ada anak yang sudah menunjukkan gejala autisme sejak lahir, tetapi ada anak yang sudah berkembang secara normal namun kemudian berhenti berkembang, kehilangan kepandaian yang telah dicapainya dan timbul gejala-gejala autisme.

”Bila terdeteksi adanya gejala autisme pada umur berapa pun, mulailah dengan melakukan interaksi yang intensif dan pantau terus anak tersebut setiap bulan. Misalkan enam bulan, kok, anak ini tidak mau menatap mata, umur tujuh bulan juga harus terus dipantau,” kata Melly Budhiman.

Dalam hal ini semua pemeriksaan adalah untuk mencari kemungkinan pencetus. Jika si ibu waktu hamil mengalami rubela, maka sebaiknya dilakukan city scan MRI, mencarinya ke arah otak apakah ada kelainan. Jika seandainya waktu lahir si anak terlilit tali pusar sehingga kekurangan O2, bisa dilakukan MRI dan kemudian EEG.

”Jika ibu menyatakan kalau setelah divaksinasi, kondisi si anak kemudian makin mundur, kita cari apakah anak ini keracunan merkuri. Darahnya harus diperiksa untuk mencari tahu berapa kadar logam berat, logam merkuri, diperiksa rambutnya, apakah merkurinya sudah lama menumpuk di tubuh dan tidak bisa keluar, misalnya,” papar Melly Budhiman.

Setelah anak terdiagnosa, langkah berikutnya adalah melakukan assessment yang dilakukan oleh satu tim psikolog, speech therapist untuk menentukan kemampuan si anak sebenarnya di bidang apa.

”Misalnya speech-nya terbelakang, tetapi keseimbangannya bagus, bisa lari, bisa lompat. Jadi lebih penting ke speech therapy. Jika perilakunya enggak karuan, maka diberi terapi perilaku,” kata Melly Budhiman.

Terapi okupasi juga bisa diberikan untuk melatih motorik halus. ”Anak-anak ini biasanya tenaganya kuat. Jika memukul orang bisa keras sekali, tetapi kalau disuruh memegang pensil tidak bisa, maka dia perlu terapi okupasi,” kata Melly Budhiman. Yang terpenting penanganan terpadu harus diberikan kepada anak-anak autis ini.

Kecurigaan pada vaksin

Sejauh ini, belum diketahui pasti penyebab autisme. Namun, faktor genetik berperan penting pada tercetusnya gejala. Bila tidak ada kelemahan genetik, kemungkinan gejala-gejala autisme tidak tercetus. Konsep baru mengatakan, gejala autisme timbul akibat racun-racun dari lingkungan yang tidak bisa dibersihkan lantaran anak memiliki kelemahan genetik.

”Faktor pemicu autisme itu banyak, tidak mungkin satu pemicu saja. Selain keracunan logam berat, anak-anak penyandang autisme biasanya juga mengalami alergi, kondisi pencernaannya juga jelek,” kata Melly. Ada kecurigaan, salah satu faktor pencetus autisme adalah logam berat merkuri.

Di Palangkaraya, misalnya, ada pusat terapi autisme yang muridnya berjumlah hampir 200 anak. Padahal, jumlah penduduknya hanya sekitar 250.000 jiwa. Jadi, prevalensi autisme di daerah itu satu per 250 penduduk. Setelah ditelusuri, warga setempat sehari-hari mengonsumsi ikan dari Sungai Kahayan, padahal sungai itu jadi lokasi pertambangan liar emas sekaligus pembuangan merkurinya.

Repotnya, menurut Melly, banyak vaksin yang beredar di pasaran mengandung merkuri. Satu suntikan vaksin dari luar negeri biasanya merkuri yang dikandung 25 mikrogram. Bahkan, ada vaksin yang kandungan merkurinya lebih dari itu. ”Keterkaitan vaksin sebagai pencetus autisme masih jadi perdebatan di dunia internasional. Ini tentunya perlu penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

Saat ini seorang anak hanya boleh menerima merkuri 0,1 mikrogram per kilogram berat badan. Jadi, anak Indonesia yang rata-rata memiliki bobot lahir 2,5-3 kilogram hanya boleh menerima 0,3 mikrogram. Akan tetapi, kenyataannya, sebagian bayi diimunisasi dengan vaksin yang mengandung merkuri sebanyak 25 mikrogram. ”Sekarang ada vaksin yang bebas merkuri, tapi harganya mahal,” kata Melly.

Terkait dengan isu bahwa vaksin MMR merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya autisme pada anak, Menteri Kesehatan Siti Fadilah tidak bersedia berkomentar mengenai masalah itu. ”Ini masih perlu pengkajian lebih mendalam lagi. Kami perlu mengecek apakah memang benar vaksin itu terkait dengan autis,” katanya menambahkan.

Dukungan pemerintah

Sejauh ini, pemerintah dinilai kurang memberi perhatian terhadap masalah autisme yang kian merebak di sejumlah daerah. Pelayanan terapi bagi penyandang autisme masih sangat terbatas dan biayanya relatif mahal sehingga sulit dijangkau para orangtua dari anak penyandang autisme.

Banyak orangtua yang kesulitan membesarkan dan memberikan terapi terbaik bagi anak mereka yang menyandang autisme. Jika tidak dideteksi dan diterapi dengan tepat sejak dini, gangguan perkembangan itu akan membuat anak-anak penyandang autisme itu tidak bisa mandiri, sulit berkomunikasi dan berkarya di lingkungan masyarakat.

Pada kesempatan terpisah, Siti Fadilah menegaskan, pemerintah mendukung layanan kesehatan bagi anak-anak yang menyandang autisme. Salah satunya dengan memberi penyuluhan dan menyediakan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas-puskesmas. Selain itu, pemerintah akan mengalokasikan dana untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus termasuk autisme.

Namun diakui, penanganan kesehatan bagi para penyandang autisma masih belum jadi prioritas pembangunan bidang kesehatan. ”Indonesia masih disibukkan dengan pengendalian penyakit menular. Penanganan autisma masih belum jadi prioritas utama,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily S Sulistyowati.

Sejauh ini, pemerintah belum mampu menyediakan pusat-pusat terapi bagi penyandang autisma. Tempat-tempat pelayanan terapi masih dikelola pihak swasta dengan biaya cukup mahal. Padahal, sebagian besar penyandang autisma butuh sejumlah terapi untuk mengatasi gangguan perkembangan, terutama kemampuan komunikasi.

Mengingat meningkatnya angka kasus autisma di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, Sekretaris Jenderal Depkes Sjafii Ahmad menyatakan, Depkes berencana mendirikan Pusat Inteligensia yang menangani masalah terkait gangguan inteligensia dan perkembangan termasuk autisma. ”Nantinya, pusat inteligensia juga akan didirikan di tiap provinsi,” ujarnya.

Tentunya, janji pemerintah untuk lebih serius menangani masalah autisme ditunggu realisasinya. Bagaimanapun, para penyandang autisme merupakan anak-anak bangsa yang ikut menentukan masa depan Indonesia. Jangan sampai mereka kelak jadi generasi yang hilang.

Minyak Ikan Cegah Kebutaan

MENGONSUMSI makanan yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 seperti minyak ikan ternyata mampu mambantu menghindari risiko gangguan penglihatan, demikian hasil tinjauan sebuah riset.

Seperti dimuat dalam jurnal The Annals of Ophthalmology, tinjauan riset para ahli Australia menyatakan omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif yang disebut age-related macular degeneration (AMD) hingga 30 persen lebih. Namun begitu, peneliti sama sekali tidak menganjurkan setiap orang untuk banyak mengonsumsi omega-3 jika hanya ingin terhindar dari ancaman ini.

Dalam istilah medis, AMD merupakan kondisi memburuknya penglihatan secara progresif dan tidak bisa diperbaiki akibat penipisan dan pendarahan di sekitar macula atau daerah pusat retina mata. Penderita AMD, yang kebanyakan berusia 60 tahun ke atas, biasanya kehilangan kemampuan untuk melihat secara detil. Pada beberapa kasus yang parah, penderita AMD bisa dikataka buta meski masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat.

Sejumlah riset selama ini kerap menghubungkan asam lemak omega-3 dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu yang paling signifikan adalah rekomendasi penelitian bahwa omega-3 dapat membantu penderita sakit jantung.

Kali ii, para ahli dari Universitas Melbourne mencoba membuat review atau tinjauan atas hasil sembilan penelitian mengenai kaitan omega-3 dan AMD. Sembilan riset ini secara total melibatkan 88.974 partisipan dan lebih dari 3,000 di antarnya mengidap AMD.

Melakukan tinjauan seperti ini menurut peneliti akan memberi kekuatan dari segi statistik dan analisis lebih komprehensif ketimbang masing-masing riset yang hanya memperhitungkan sejumlah faktor ata kemungkinan.

Hasil tinjauan menyimpulkan bahwa mengonsumi ikan sekurangnya dua kali dalam seminggu dapat menurunkan risiko menderita AMD. Penurunan risiko sebesar 38 persen ditemukan pada partisipan yang tercatat paling banyak mengonsumsi omega-3 dibandingkan mereka yang sedikit mengonsumsinya.

Pimpinan riset Dr Elaine Chong menegaskan, asam lemak omega-3 merupaka komponen vital untuk kesehatan retina. Ada kemungkinan bila seseorang kekurangan zat ini akan lebih rentan terhadap AMD karena sel-sel pada retina mata selalu memperbarui secara alami.

Walau asupan omega-3 berkaitan dengan risiko AMD, Chong belum menganjurkan konsumi rutin menginngat masih minimnya bukti penelitian. "Meskipun meta-analysis mengindikasikan bahwa konsumi ikan dan makanan mengandung omega-3 berhubungan dengan rendahnya risiko AMD, belum ada cukup bukti dari literatur saat ini yang mendukung konsumsi rutin bagi pencegahan AMD," tegas Chong.