Selasa, 06 Mei 2008

Soal Gizi Buruk, Perlu Optimalkan Penyuluh Kesehatan

PERAN penyuluh kesehatan harus dioptimalkan lagi dalam memberi pemahaman pada para ibu di Indonesia yang sebagian besar harus diakui masih berpendidikan rendah. Padahal, tingkat pendidikan ibu sangat mempengaruhi kualitas asuhan gizi anak termasuk pemberian Air Susu Ibu dan pemberian makanan bayi serta anak.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Departemen Kesehatan dr Budihardja dalam Seminar Nasional bertema Problema Gizi Buruk, Kebijakan Pemerintah dalam Ketahanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (3/5).

Budihardja mengatakan, hampir 80 persen penderita gizi buruk berada di pedesaan terutama wilayah terepencil yang belum banyak terjangkau pendidikan. Selama pembangunan pemerintah belum menyentuh hingga ke areal pelosok, maka kasus gizi buruk dikhawatirkan akan tetap tinggi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof Dr Totok Mardikanto mengatakan, harus ada revitalisasi penyuluhan untuk menyelamatkan ketahanan pangan di Indonesia. Masing-masing penyuluh juga jangan tertutup untuk mempelajari bidang lain. Penyuluh kesehatan juga harus mempelajari masalah pangan. Demikian juga sebaliknya, jelas Totok.

Menurut Staf Pengajar Program Magister Hukum Kesehatan Universit as Katolik Soegijapranata, Endang Wahyati menyebutkan, tingginya angka gizi buruk selama ini diakibatkan kebijakan ketahanan pangan pemerintah yang tidak konsisten. Menurut dia, sudah saatnya pemerintah merancang Undang-Undang Pangan yang khusus mengatur masalah penyediaan pangan untuk masyarakat.

Pemerintah harus bertanggungjawab sepenuhnya pada penyediaan pangan. Jika tidak dibahas secara khusus, kebijakan pangan hanya sektoral dan akhirnya tidak akan menyelesaikan masalah krisis pangan yang berdampak pada kasus gizi buruk, tutur Endang.

Budihardja mengakui, selama ini ada beberapa kendala dalam penanggulan kasus gizi buruk di Indonesia. Kendala pertama yakni perbedaan persepsi mengenai gizi buruk yang menyebabkan perbedaan respons terhadap setiap kasus. Selain itu, koordinasi lintas sektor antar Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan dan instansi pemerintah lainnya masih lemah.

"Hingga kini, memang belum ada konsistensi dan keberlanjutan dalam tiap penanganan kasus gizi buruk," ujarnya mengakui.

Gemuk, Hamil Lebih Berisiko

WANITA yang mengalami kegemukan (obesitas) pada trimester pertama kehamilan maupun yang berat badannya melonjak naik, kemungkinan besar akan melewati masa kehamilan lebih lama serta berisiko mengalami komplikasi, demikian hasil penelitian terbaru.

Dengan menggunakan arsip Swedish Medical Birth Register, Dr Fiona C. Denison berserta timnya dari Universitas Edinburgh Inggris menganalisa data medis para wanita yang melahirkan antara tahun 1998 dan 2002. Dari 143.519 kehamilan, 6,8 persen di antaranya melahirkan melewati jadwal normal atau lebih dari 42 pekan. Masa kehamilan normal berlangsung selama 40 pekan.

Dari data tersebut terungkap bahwa kehamilan yang melewati masa normal, lebih banyak dialami ibu hamil yang pada trimester pertama memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi maupun mereka yang berat badannya melonjak tinggi saat hamil.

Kelebihan berat badan atau obesitas saat trimester pertama dihubungkan dengan kemungkinan yang makin kecil untuk melahirkan secara spontan pada masa normal. Selain itu, obesitas dihubungkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelahiran mati, diabetes yang terkait kehamilan, dan operasi cesar.

"Kegemukan menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan ibu maupun bayi yang dikandungnya, dan penelitian kami menegaskan temuan lainnya bahwa obesitas punya hubungan yang signifikan dengan komplikasi-komplikasi seperti kelahiran mati, diabetes terkait kehamilan, darah tinggi yang disebabkan oleh kehamilan dan operasi cesar," ungkap Denison dan timnya.

"Jika gaya hidup sehat , termasuk beraktivitas fisik dan makan makanan sehat semakin dianjurkan untuk mereka yang hamil dalam keadaan gemuk, maka hasil dari proses melahirkan kemungkinan akan lebih baik.

RS DKT Akan Kirim Pasien Mirip Manusia Akar ke RSPAD

RS Detasemen Kesehatan Tentara Lampung akan mengirim pasien mirip dengan manusia akar ke RS Pusat Angkat Darat Gatot Subroto. Pengiriman pasien mirip dengan manusia akar dilakukan supaya pasien mendapatkan perawatan dan pengobatan secara lebih baik.

Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah (Danmenkes) RS Detasemen Kesehatan Tentara (RS DKT) Lampung Letkol (Ich) dr Jajang Edi Priyatno SpB, Selasa (6/5) mengatakan, berdasarkan analisa tim dokter RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta melalui foto-foto kerusakan jaringan kulit, kedalaman kutil, luas serangan kutil, dan kondisi fisik, pasien mirip dengan manusia akar bernama Zaenal (35) harus menjalani pemeriksaan dan perawatan dalam waktu cukup lama.

Tim dokter RSPAD memperkirakan Zaenal harus melalui lima tahap perawatan. Melalui tahapan-tahapan itu Zaenal akan mengalami operasi pengangkatan dan pembuangan kutil-kutil yang tumbuh menumpuk di jari-jari kaki, jari-jari tangan, serta wajah dan kepalanya. Jajang mengatakan, dengan perkiraan lamanya waktu operasi dan perawatan itu, RS DKT memutuskan untuk mengirim Zaenal ke Jakarta. "Apalagi, RSPAD memiliki tim medis yang lengkap dan peralatan pendukung operasi yang dibutuhkan," jelas Jajang.

Seperti yang sudah diperkirakan Jajang sebelumnya, Zaenal akan membutuhkan berbagai keahlian dokter spesialis. Di antaranya ahli penyakit dalam, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis jiwa, dokter spesialis bedah plastik, dan dokter spesialis bedah umum. Pihak rumah sakit juga memutuskan, Zaenal boleh ditemani keluarganya. Hanya saja, jumlah keluarga yang boleh menemani dibatasi tiga orang saja. Pengiriman, operasi, dan perawatan Zaenal sepenuhnya akan ditanggung RS DKT.

Secara terpisah, pihak keluarga Zaenal yang dikonfirmasi mengenai pengiriman Zaenal ke Jakarta menyatakan belum bisa memutuskan. "Kami perlu berunding terlebih dahulu apabila harus ke Jakarta," kata Nurbiati, kakak kandung Zaenal. Keberatan itu muncul lantaran keluarga Zaenal merupakan keluarga tidak mampu. Sehingga mereka perlu berunding mengenai pembiayaan anggota keluarga selama di Jakarta.

"Kami akan merundingkan masalah itu Selasa (6/5) malam. Besok kami sudah memutuskan anggota keluarga yang akan menemani Zaenal," kata Nurbiati. Pihak RS DKT Lampung sendiri merencanakan akan mengirim Zaenal pada Rabu (7/5) pukul 08.00. Selanjutnya, ketika Zaenal sudah melalui lima tahapan operasi, RS DKT akan bertanggungjawab atas perawatan pasca operasi.

Sejak Awal 2008, Kasus DBD Turun di Jakarta

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menunjukkan tren penurunan di sejumlah rumah sakit di wilayah DKI Jakarta sejak awal tahun hingga Mei 2008. "Dari catatan kami, puncak berjangkitnya DBD terjadi pada Desember 2007 dan mulai menurun sejak memasuki tahun 2008," kata Humas Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan, Ina, di Jakarta, Selasa.

Sebagai perbandingan, ujar Ina, bila pada Desember 2007 dalam satu hari bisa mencapai hingga 100 pasien DBD, maka pada Mei 2008 jumlahnya adalah sekitar 50 orang per hari. Sedangkan jumlah pasien di RS Fatmawati secara keseluruhan per bulan pada tahun 2008 adalah 546 orang pada Januari, 428 orang pada Februari, 335 orang pada Maret, dan 368 orang pada April.

Selain itu, ia juga mengemukakan, hingga kini masih belum diperlukan tempat tidur ekstra meski pihaknya telah mempersiapkan hal itu seandainya terjadi lonjakan pada musim pancaroba kini. Sementara itu, senada dengan RS Fatmawati, Rumah Sakit Pasar Rebo di Jakarta Timur juga mengalami tren penurunan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

"Kini jumlah pasien DBD hanya sekitar 20 orang, menurun dibandingkan sebelumnya sehingga kami juga tidak membutuhkan tambahan tempat tidur," kata Dr Dasro dari bagian informasi RS Pasar Rebo. Sebelumnya, jumlah pasien di Rumah Sakit Tarakan Jakarta Pusat juga semakin mengecil dari 59 pasien pada 28 April menjadi 49 pasien pada 5 Mei.

Direktur Rumah Sakit Koja Jakarta Utara, Nur Abadi mengatakan, pada tahun 2008 ini pihaknya masih belum menemukan lonjakan penderita DBD seperti pada tahun 2007.Namun demikian, ia menginginkan agar warga tetap mewaspadai periode musim pancaroba yang kemungkinan masih akan berlanjut hingga bulan Mei. Dari sejumlah rumah sakit tersebut, ditemukan bahwa perbandingan antara jumlah pasien dewasa dan anak-anak rata-rata adalah sekitar 2 : 1.

Indonesia Jajaki Riset Flu Burung dengan Bill Gates

Pemerintah Indonesia akan menjajaki kemungkinan menjalin kerjasama dengan Chairman Microsoft, Bill Gates, untuk pengembangan vaksin flu burung untuk manusia. Termasuk di dalamnya mediasi dengan berbagai pihak yang memiliki teknologi maupun stok vaksin, serta membantu pelaksanaan riset terkait dengan pengembangan vaksin.

"Kalau vaksin flu burung untuk unggas itu sudah ada. Ini dengan Bill Gates kita jajaki bagaimana kemungkinan kerjasamanya. Kami akan bicarakan bagaimana teknologi pembuatan vaksin flu burung itu," kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie di Jakarta, Selasa (6/5). Bill Gates & Melinda Foundation, yayasan yang didirikan Bill dan istrinya saat ini baru fokus pada riset HIV.

Dalam hal pengembangan teknologi vaksin flu burung untuk manusia tersebut, menurut Aburizal Bakri, Indonesia berhak dan bebas menjalin kerjasama dengan siapa saja. "Semakin banyak yang bisa mengembangkan vaksin flu burung tersebut, semakin baik," kata Menko Kesra.

Bill Gates datang ke Indonesia atas undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 8-9 Mei 2008 Bill Gates akan hadir pada Microsoft Goverment Leaders Forum (GLF) Asia 2008. GLF Asia ini adalah acara global Microsoft yang diselenggarakan setiap tahun untuk memfasilitasi para pemimpin di kawasan Asia Pasific, sekaligus bertukar pengalaman dan membahas isu-isu yang berkaitan dengan masa depan kawasan Asia Pasifik, terutama peran dari teknologi dan informasi dalam mendukung keberhasilan di berbagai bidang pembangunan, misalnya good governance, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UKM.

Sex Detox, Biar Gairah Berkobar Lagi

ISTILAH ¨sex detox¨ mungkin belum begitu akrab di telinga. Namun, dua kata ini dapat diartikan dengan sederhana, yakni menghentikan aktivitas seksual selama kurun waktu tertentu untuk memperbaiki kualitas kehidupan seksual Anda.

Adalah terapis seks kenamaan, Ian Kerner, yang mengenalkan istilah ini dalam buku barunya berjudul Sex Detox. Ia mengatakan bahwa untuk menggapai kepuasan yang lebih baik, terkadang seseorang harus melupakan aktivitas seksual untuk sesaat. Puasa seks dapat dilakukan hingga 30 hari lamanya. Upaya ini dapat membantu memperbarui hubungan setiap pasangan dan mengembalikan gairah seksual yang sempat padam.

Mengapa perlu sex detox?
Terkadang, Anda harus melupakan seks sementara waktu untuk memahami masalah yang mungkin menghantui dan mengganggu keharmonisan Anda. Jika anda melakukan seks hanya sekadar menuntaskan kewajiban, melakukan orgasme semu, atau gairah menurun karena merasa tidak tertarik, detoks dapat membantu dalam memecahkan masalah dan menelusuri apa yang tengah terjadi dengan Anda.

Bagaimana melakukannya?
Setiap hari selama 30 hari ¨berpuasa¨, Anda harus melakukan aktivitas yang berbeda, membaca, atau merenung untuk mengeksplorasi banyak hal yang memengaruhi kehidupan seks Anda. Anda mungkin bisa melihat foto-foto kenangan keluarga untuk mempelajari bagaimana pengaruh ini berperan di masa kanak-kanak atau Anda juga bisa memeriksakan kesehatan Anda secara keseluruhan. Idealnya, detoks dilakukan suami dan istri bersamaan, namun Anda juga dapat melakukannya sendiri. Terkadang bila detoks ini memberi pengaruh positif, pasangan Anda juga akan mengikutinya.

Apa manfaat sex detox?
Anda akan mendapat pemahaman dan pengetahuan lebih luas mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan seksual dan bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan Anda dan sebaliknya. Perasaan Anda akan merasa lebih tersambung dan siap untuk berkomunikasi dengan pasangan. Kalaupun Anda tak mampu menahan gairah selama 30 hari penuh, pelanggaran mungkin akan membuat seks justru menjadi lebih hot, dan hasilnya tidak akan terlalu buruk.

Gak Bisa Seks? Saling Sentuh pun OK!

DARI seluruh sensasi tubuh yang bisa dirasakan, sentuhan merupakan ungkapan paling intim. Sebagai sebuah cara komunikasi terdalam yang dapat menimbulkan rasa nyaman, cinta, afeksi, dan simpati, sentuhan bisa membuat badan menjadi rileks. Dan yang paling penting menimbulkan pengalaman erotis.

Merasai tubuh orang lain memberikan kesenangan lebih dan tidak tertandingi pengalaman lain. Bagi beberapa orang mungkin ini aneh, agak risih, meski banyak juga yang merasa tidak seperti ini.

Pijat, membawa kita pada kenikmatan alamiah dari sentuhan itu sendiri. Terapi pijat, entah itu dari teman atau ahli pijat profesional merupakan cara merawat diri. Bahkan pijat sendiri seolah-olah ‘mewahyukan’ dirinya pada setiap orang yang berpikiran bahwa kesenangan fisik semata terkait dengan kegiatan seks. Tidak, kesenangan fisik bisa didapat hanya dengan sentuhan atau pijat.

Bila ingin variasi suasana saat bercinta, pijatan akan menciptakan dimensi yang berbeda dari seluruh pengalaman yang ada mengenai seksualitas. Seluruh tubuh Anda akan dibawa masuk dalam kenikmatan seksual yang mewujud lewat sensasi yang bisa dirasakan dari setiap inci kulit kita.

Kebanyakan kita, seks terjadi begitu saja. Hingga akhirnya kita hanya bisa merasakan satu atau dua bagian tubuh. Bahkan tidak jarang pula, pengelanaan kita langsung ditujukan pada puting payudara atau mungkin penis saja.

Padahal dengan pijatan lembut atau sentuhan, Anda akan menemukan seluruh tubuh ini merupakan zona erotik yang memukau dan membawa kenikmatan luar biasa.

Pijatan erotik pada dasarnya adalah persoalan bagaimana kita melepaskan seluruh potensi tubuh untuk bisa menangkap sensasi kenikmatan yang bisa muncul.

Biasanya hal ini dengan sendirinya akan membawa Anda pada percintaan dan menyiapkan kepuasan yang bisa Anda rasakan saat orgasme terjadi. Dengan sendirinya, ini akan membawa Anda pada pengalaman seksual yang begitu sempurna.

Pada pasangan baru, ini merupakan langkah untuk mengenal setiap inci tubuh satu sama lain. Memang agak lucu sentuhan justru membuat kita lebih intim daripada seks itu sendiri. Tidur atau bercinta dengan orang lain mungkin gampang, tetapi memegang tangan pasangan kita di keramaian adalah sebentuk pernyataan. Pijatan atau sentuhan ternyata berbeda bila dibandingkan dengan seks itu sendiri, karena justru itulah keintiman yang sesungguhnya.

Bila Anda mengalami masalah seksual, sentuhan, pijatan mungkin merupakan solusi untuk membagi kenikmatan tanpa perlu khawatir apakah bisa bersenggama atau tidak.

Aktivitas yang melelahkan setiap hari membuat kita stres. Pijat, sentuhan adalah cara untuk bisa rileks dan menikmati kesenangan fisik dengan pasangan