Jumat, 28 Maret 2008

Ingin Bayi Tabung tak Perlu Jauh ke Singapura

Bagi pasangan yang berencana menjalani program bayi tabung, Anda tak perlu lagi jauh mencari klinik di Singapura atau ke negara lain. Di Indonesia, kini telah banyak tersedia klinik atau rumah sakit yang melayani program bayi tabung dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi.

"Saat ini, sudah ada 11 Rumah Sakit di kota-kota besar Indonesia yang menyediakan program bayi tabung dengan jumlah siklus setiap tahun mencapai sekitar 500 siklus. Berdasarkan data 2007, tingkat keberhasilannya pun hampir merata pada setiap IVF (In-Vitro Fertilization) Centre di Indonesia. Untuk kehamilan yang berjalan (ongoing pregnancy) sekitar 25 hingga 40 persen, sedangkan yang kehamilan klinis (clinical pregnancies) 30-42 persen," ungkap Dr. R Muharam, SpOG, (K), dari divisi Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri & Ginekologi FKUI - RSCM di Jakarta .

Di Jakarta sendiri, lanjut Muharam, layanan program bayi tabung dapat diperoleh di sejumlah tempat seperti Klinik Yasmin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RS Harapan Kita, RS Bunda, RS Family, RS Gading Pluit. Klinik bayi tabung juga tersebar di beberapa kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya Semarang dan Bali.

Mengenai kualitas, layanan klinik bayi tabung di Indonesia sebenarnya tak kalah jauh dibanding negara tetangga. Salah satu yang dapat dibandingkan dalam hal kualitas adalah Klinik Yasmin Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Klinik ini merupakan pusat layanan terpadu Endokrinologi Reproduksi dan Infertilitas yang sudah berdiri sejak 2004. Sekarang, klinik ini telah mulai menawarkan banyak kemudahan kepada para pasien, baik dari segi akses maupun layanan terpadu.

"Di luar negeri tentunya sudah sangat ideal. Tapi di kita pun sudah mulai mengarah ke sana. Di klinik Yasmin RSCM misalnya, kami sudah membuka website untuk kemudahan akses informasi. Selain itu, tersedia one stop service atau layanan terpadu di mana klinik melibatkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu. Dari sisi peralatan pun, klinik kami punya alat canggih berkat bantuan dari pemerintah," terang dr Andon Hestiantoro, SpOG(K), Kepala Klinik Yasmin RSCM.

Peralatan canggih yang dimiliki klinik Yasmin antara lain ultrasonografi 3 dimensi dan Doppler untuk mengukur aliran darah di ovarium dan uterus. pemeriksaan implantasi di edometrium, pemeriksaan genetika dan imunologi reproduksi serta tindakan preservasi fertilitas termasuk simpan beku sel telur, sperma dan indung telur.

Kelebihan lain yang dimiliki Klinik Yasmin RSCM, adalah group management. Artinya, tata laksana pasien tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing dokter, tetapi melibatkan seluruh dokter yang praktik. "Jadi tata laksananya bersifat grup atau kelompok. Masalah atau kasus seorrang pasien didiskusikan oleh seluruh dokter dua kali setiap seminggu," ujar dr Andon.

Satu hal lagi yang menjadi kelebihan di klinik Yasmin RSCM, metoda pengobatan berdasarkan hasil riset dan penelitian (based research medicine). "Kami menggunakan hasil penelitian, baik yang dilakukan oleh kami atau pun kolega di luar negeri sebagai dasar. Dari riset, kami bisa mengetahui apa yang terbaik buat pasien. Penelitian yang ada, kami terapkan untuk pengobatan pasien, " terangnya.

Klinik ini juga menyisihkan sedikit dari dana penelitian untuk mensubsidi silang bagi para pasien yang secara finansial kurang mampu. Dari sisi harga layanan pun, klinik ini cukup bersaing dan relatif lebih murah dibanding klinik atau rumah sakit swasta. "Salah satu tujuan pengembangan klinik kami adalah supaya masyarakat mendapatkan pelayanan dengan harga yang cukup terjangkau," tandas dr. Andon.

Seks Pagi Hari Bikin Anda Lebih Sehat

Aktivitas seksual memang dapat dilakukan kapan dan di mana saja, meski kebanyakan orang mungkin lebih suka melakukannya di malam hari menjelang istirahat. Namun tak ada salahnya Anda mulai membiasakan ngeseks di pagi hari, karena aktivitas yang membakar kalori ini akan membuat tubuh Anda lebih sehat.

Menurut penelitian para ahli di Universitas Queen di Belfast, ngeseks pada pagi hari akan membuat seluruh otot dalam tubuh Anda bekerja. Selain itu, jantung dan paru-paru Anda pun terlatih seperti halnya melakukan gerakan aerobik. Dalam selang satu jam, aktivitas seksual diyakini dapat membakar sekitar 300 kalori yang tersimpan pada tubuh.

¨Aktivitas yang teratur setidaknya tiga kali dalam seminggu akan membantu Anda menekan risiko serangan jantung dan stroke. Seks yang teratur juga memperbaiki sirkulasi darah dan menjaga tekanan darah,¨ ungkap hasil penelitian yang dimuat The Sun.

Sementara itu menurut riset yang dipublikasi jurnal New Scientist, manfaat lain dari seks yang teratur, minimal dua kali seminggu, akan menimbulkan efek penyembuhan dengan cara meningkatkan kadar IgA atau antibodi yang merupakan pertahanan primer tubuh.

Namun begitu, peneliti juga berpesan seks sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Jika dilakukan lebih dari tiga kali dalam sepekan, seks dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Lepaskan hormon
Sesaat sebelum mencapai orgasme, kadar hormon oksitosin yang mendatangkan efek nikmat akan meningkat. Dalam tubuh pun kemudian akan mengalir hormon endorfin yang merupakan penanda kepuasan seks yang secara alami juga dapat berfungsi sebagai pereda rasa sakit, termasuk untuk mengatasi sejumlah masalah mulai dari artritis hingga migren.

Dengan seks, seseorang juga dapat mengatasi problem stres karena tubuh akan terpicu untuk memproduksi hormon kortisol. Aktivitasnya yang bersifat membakar kalori pun dapat menjaga bobot tubuh sekaligus menekan risiko diabetes.

Orgasme juga akan memacu pelepasan hormon estrogen yang dapat mengatasi para wanita dari rasa sakit akibat premenstrual syndrome (PMS). Para ahli di Yale School of Medicine percaya, hal ini pun mampu mencegah endometrosis atau suatu keadaan di mana jaringan yang hanya ada dalam rahim, dapat ditemukan di bagian lain dalam tubuh. Keadaan ini menimbulkan rasa nyeri, terutama pada saat haid dan dapat menyebabkan infertilitas (mandul).

Manfaat lain yang tak kalah penting adalah aktivitas seks juga bisa mendorong produksi testosteron. Hormon ini berkaitan dengan tulang dan otot yang kuat sehingga menghindarkan seseorang dari keropos tulang.

Air Liur Dapat Gantikan Darah di Uji Diagnostik

Para periset di Amerika Serikat telah mengindentifikasi 1.116 protein unik pada kelenjar saliva atau air liur manusia yang dapat mengarah ke uji diagnostik kedokteran yang lebih nyaman dengan air liur ketimbang menggunakan darah. Sebanyak 20 persen kandungan protein yang ditemukan pada saliva juga ditemukan pada darah, kata Fred Hagen, seorang ahli riset di Universitas Rochester Medical Center, New York.

"Kandungan tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai pijakan besar yang banyak berimplikasi klinis dalam hal diagnostik penyakit," kata Hagen yang studinya tersebut dimuat di dalam Jurnal Proteome Research. Para ahli riset berharap uji berdasarkan air liur ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kanker, penyakit jantung, diabetes, dan sejumlah penyakit lainnya.

"Untuk mampu mendiagnosa penyakit dengan menggunakan air liur, anda harus memahami secara menyeluruh proteome air liur," kata Hagen. Bagaikan genom, yang mencatat seluruh gen pada sebuah organisme, proteome merupakan gambaran lengkap dari berbagai protein. Apabila gen menyediakan instruksi manual, protein melaksanakan instruksi dengan mengatur proses seluler.

Para periset dari 5 universitas - University of Rochester, The Scripps Research Institute, the University of Southern California, The University of California San Francisco and the University of California Los Angeles -- berupaya menentukan kandungan protein lengkap yang terdapat pada kelenjar air liur pada umumnya.

Darah, Air Liur dan Air Mata

Para periset tersebut mengumpulkan air liur dari 23 pria dan wanita sehat dari berbagai ras. Periset menggunakan sampel air liur dengan menggunakan spectrometry massa yang menentukan identitas protein berdasarkan ukuran massa dan charge (berat kosong).

Periset membandingkan penemuan mereka tersebut dengan pemetaan protein dari darah dan air mata manusia yang ditemukan belakangan. Hasil analisa awal menunjukkan terdapat sejumlah protein yang dikenal berperan dalam Alzheimer, Huntington, Parkinson, kanker payudara, kanker pankreas, kanker colorectal (kanker yang berkembang pada colon atau usus besar dan rectum atau anus), serta diabetes.

Hegen menjelaskan pemetaan tersebut seharusnya mempercepat pengembangan media baru untuk melacak penyakit di seluruh tubuh. Menurut Hagen, telah terdapat uji anti body yang berpijak pada air liur untuk mendeteksi virus HIV serta infeksi hepatitis. Hagen menerangkan protein tersebut akan bertugas dalam menginformasikan target deteksi penyakit baru.

"Memonitor penyakit serta penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih mudah dengan air liur ketimbang dengan darah atau urin," kata Hagen. "Kami membayangkan petunjuk keberadaan penyakit seperti kanker dapat dideteksi hanya dengan melihat indikator air liur. Hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan terutama di rumah," jelasnya. Hagen berharap identifikasi penyakit dengan air liur ini nantinya dapat menggantikan fungsi tes diagnostik pada mammograms yang tidak nyaman dan menelan biaya besar.

Kalsium, Kembangkan Motorik Anak

KALSIUM diketahui sangat penting untuk membantu pembentukan tulang dan gigi pada anak. Namun selain itu, ternyata kalsium juga sangat penting peranannya dalam membantu anak mencapai kemampuan motorik yang optimal.

Menurut DR.Dr. Nani D, Sp.A, setidaknya ada beberapa tahapan yang berbeda pada kemampuan motorik anak. Pada usia 0-2 tahun, anak mulai belajar memegang, meniru, mengangkat, meraih, tengkurap, merangkak, berdiri dan berjalan. Usia 2- 3 tahun, anak belajar meloncat, memanjat, dan melompat dengan satu kaki. Usia 3-4 tahun, anak mulai belajar berjalan-jalan sendiri disekitar rumah, belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri. Usia 4-5 tahun, anak mulai belajar melompat dan menari, serta menaruh minat pada aktivitas orang dewasa. Dan pada masa sekolah, anak mulai belajar-hal-hal baru yang memerlukan gerakan otot khusus seperti bermain dan berolahraga.

Perkembangan motorik disebut optimal jika kemampuan motorik dicapai pada waktunya. Karena itu perlu kesiapan sistem saraf, otot dan tulang. Semuanya dapat dicapai lewat aktivitas olahraga teratur, pola hidup sehat dan tentu asupan kalsium yang memadai. Spesialis anak RSB Budi Kemuliaan ini mengungkapkan, sejak dini tabungan kalsium perlu dilakukan. Jika kebutuhan ini mengurang, tentu akan mengganggu proses pertumbuhan si anak. Gigi yang tidak bertumbuh dengan baik, tulang yang mudah keropos dan patah merupakan akibatnya. Hingga pada akhirnya sistem saraf pun akan terganggu pertumbuhannya dan kecerdasan anak akan berkurang. Tak heran bila kalsium mempunyai peranan penting dalam perkembanga kemampuan intelektual dan fungsi otak anak.

Transfer kalsium dari dalam dan luar sel syaraf sangat dekat hubungannya dengan mengaktifkan dan mengistirahatkan pesan otak. Ketika tubuh kekurangan kalsium, pelepasan syaraf pesan akan terhambat dan mekanisme pengaktifan atau pengistirahatan juga akan rusak. Akibatnya, pada anak-anak, mereka menjadi kerap gelisah saat tidur (tidur tidak nyenyak) juga hiperaktif.

Proses pembekuan darah juga tak luput dari peran kalsium. Pada saat anak terluka akibat melakukan suatu aktivitas, darah yang keluar dari tubuh akan cepat membeku bila sel darahnya banyak mengandung kalsium. Lukanya pun akan cepat sembuh, sehingga anak bisa melanjutkan aktivitas lainnya dengan cepat.

Untuk jantung, kalsium sangat bermanfaat bagi berlangsungnya kontraksi otot jantung. Saat jantung berkontraksi, kalsiumlah yang bertugas mengatur ritmenya. Anak dengan kondisi jantung yang sehat dapat melakukan berbagai macam olahraga dan aktivitas seru lainnya. Otot jantung yang sehat mampu mengimbangi aktivitas si anak.

Kebutuhan kalsium tiap anak berbeda, kata Nani. Anak usia kurang dari 1 tahun membutuhkan kalsium sebanyak 200-400 mg/hari, anak usia 1-9 tahun, membutuhkan 500-600 mg/ hari dan anak usia 10-18 tahun membutuhkan kalsium sebanyak 1000 mg/hari. Kalsium dapat diperoleh dari makanan seperti susu dan produk susu (es krim, keju, yoghurt), serta makanan non produk susu seperti ikan, sayuran, kacang-kacangan, tomat. "Untuk itu diharapkan, agar orangtua dapat mengatur menu sehari-hari agar semua kebutuhan gizi anak tercukupi, baik melalui makanan pokok maupun cemilan apalagi untuk anak yang sulit makan," ujar Dr. Nani.

Waspada, Gagal Ginjal pada Anak

ELLY tak pernah menyangka, bidadari kecilnya harus menjadi penderita gagal ginjal kronik. Sebuah penyakit yang dalam pikirannya tak akan bisa menyerang bocah seusia Maulida, yang kala itu masih 10 tahun. Dr. Endang Lestari, dokter yang menangani Maulida mengatakan, pemahaman masyarakat untuk mendeteksi secara dini gejala-gejala penyakit ginjal masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan efek fatal menimpa sang anak. Sebab, jika telah divonis mengalami gagal ginjal, sang anak harus bersahabat dengan cuci darah sepanjang hidupnya.

"Masyarakat kita tahunya, penyakit anak-anak itu pilek, batuk, demam, masuk angin. Mereka berpikir penyakit seperti ginjal tidak bisa menyerang anak-anak. Oleh karena itu, sosialisasi untuk mengenali gejala-gejalanya secara dini sangat penting sekali. Seperti kasus Maulida ini. Karena terlambat mendeteksi, ternyata sudah sampai stadium gagal ginjal kronis," jelas dr. Endang yang ditemui saat turut menemani Maulida dalam acara Temu Penderita Gagal Ginjal.

Gejala yang bisa dideteksi dengan mudah, lanjut Endang, sering mengalami kejang. Kejang terjadi sebagai efek dari ureum dan kreatinin yang meningkat, mengakibatkan peningkatan racun dalam tubuh. Peningkatan racun dalam tubuh inilah yang menyebabkan gagal ginjal dan harus dilakukan cuci darah. Jika berhasil dideteksi ketika masih dalam taraf infeksi, risiko gagal ginjal dapat dicegah.

Infeksi yang dimaksud, selain infeksi ginjal juga kandung kemih. Gejalanya, disertai pula dengan susahnya anak mengalami naik berat badan."Gagal ginjal pada anak itu bisa karena kelainan bawaan, keturunan, dan juga didapat karena penyakit lain yang membawa efek ke ginjal. Kebanyakan faktor luar. Bukan karena pola makan. Dalam kasus Maulida, awalnya dia sebenarnya mengalami infeksi ginjal namun tidak ditangani dengan baik," lanjut Endang.

Ternyata, tak hanya Maulida, penderita gagal ginjal anak-anak yang ditangani dr. Endang. Bahkan, ia pernah menangani bayi berusia 1 tahun yang didiagnosis mengalami gagal ginjal. "Tapi karena masih bayi kita nggak bisa terapkan CAPD, sehingga akhirnya tidak tertolong. Yang sedang saya tangani sekarang, ada yang usianya masih 5 tahun, 7 tahun. Jadi memang harus kita waspadai," lanjut dokter spesialis anak ini.

Penderita yang mengalami gagal ginjal, hanya bisa dinyatakan sembuh setelah melakukan transplantasi ginjal. Tanpa itu, maka seumur hidup akan bergantung pada hemodialisis ataupun Continuous Ambulatory Peritonial Dialysis (CPDA). Sayangnya, transplantasi ginjal pada anak-anak bukan perkara mudah. Bahkan, hingga saat ini hanya bisa dilakukan di luar negeri. Selain memiliki risiko yang jauh lebih tinggi, dokter-dokter di Indonesia belum banyak yang melakukannya.

Dokter Endang pun menitip pesan untuk seluruh orang tua. "Jangan pernah remehkan, sesimpel apapun gejala penyakit yang dialami anak. Segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit. Dan kalau perlu jangan hanya mengandalkan satu diagnosa jika memang tidak yakin, atau mencari second opinion," pesan dia.

Waspadai Kanker Pada Anak!

BERDASARKAN data International for Research on Center (IARC), 1 dari 600 anak di dunia akan menderita kanker sebelum umur 16 tahun. Memang, besarnya angka anak penderita kanker berkisar antara 1%-3% dari jumlah keseluruhan penderita kanker, namun dokter spesialis kanker anak dari RSCM, dr. Maria Abdulsalam, Sp.A(K) mengatakan keberhasilan pengobatan terhadap kanker anak relatif tinggi jika diobati mulai dari stadium dini.

Maria menjelaskan angka harapan hidup bebas kanker pada anak pada stadium awal mencapai angka 90% sedangkan pada stadium lanjut hanya sekitar 20%-40%.

“Anak itu masih tumbuh dan berkembang. Jadi kalau sejak dini sudah ditangani, kemungkinan untuk sembuh itu sangat besar. Tapi di bagian anak RSCM saja, penderita yang datang dengan stadium lanjut itu lebih dari 60%,” ujar Maria dalam Seminar Kanker Anak yang diadakan oleh Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) di Kampus Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta, Rabu (26/3).

Kanker pada anak sendiri dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik adalah faktor bawaan dari keluarga ayah atau ibu yang pernah memiliki riwayat kanker. Faktor lingkungan adalah faktor eksternal yang menimbulkan potensi kanker, seperti pengaruh bahan kimia, sinar radiasi, pemakaian obat, infeksi virus dan makanan.

“Untuk faktor lingkungan, ini dapat kita kendalikan. Misalnya, hindari makanan-makanan yang mengandung banyak zat warna. Itu kan sering menarik anak kita ya, karena warna-warnanya sangat menarik,” tambah Maria. spesialis kanker anak dari RSCM, dr. Maria Abdulsalam, Sp.A(K)

Menurut Maria pula, jenis kanker yang paling sering diderita oleh anak adalah kanker darah (leukimia), kanker usus, kanker otak, kanker mata (retinablastomata) dan kanker saraf.

“Kanker yang paling banyak diderita oleh anak itu leukimia, itu mencapai 60%-75% dari keseluruhan kasus. Berikutnya kanker usus, kanker otak, retinablastomata dan kanker saraf,” katanya.

Untuk itu, Maria mengatakan perlu kewaspadaan dari orang tua terhadap perubahan yang terjadi pada anak dan segera pergi ke dokter untuk mengkonsultasikannya.

“Pikirkan kanker kalau melihat atau meraba benjolan pada tubuh anak. Tidak semua benjolan itu kanker. Lalu kalau meraba benjolan, langsung saja ke dokter. Jangan ditekan-tekan, nanti bisa menyebar, dari stadium 1 malah jadi stadium 2,” kata Maria mengenai kiat awal untuk mendeteksi kanker pada anak.

Kenali Gejala Kanker Pada Anak Sejak Dini

FAKTA bahwa kanker juga dialami oleh anak-anak, khususnya anak dalam rentang usia tiga bulan hingga tujuh tahun, orang tua harus mewaspadai gejala kanker yang mungkin terjadi pada anaknya. Apalagi, pendeteksian kanker sejak dini pada anak dapat membawa mereka pada kondisi sembuh total dari penyakit ganas ini.

Dari banyak kasus seperti disebutkan dokter spesialis kanker anak dari RSCM, dr. Maria Abdulsalam, Sp.A(K), lebih dari 60% anak penderita kanker yang dibawa ke RSCM, datang dalam kondisi stadium lanjut yang menyebabkan proses pengobatan yang makin berat dan harapan kesembuhan yang makin kecil.

Secara umum, Maria menyebutkan, gejala yang dialami oleh penderita kanker seperti penyakit biasa, yaitu berat badan turun, demam berkepanjangan tanpa diketahui penyebabnya yang jelas serta pucat.

“Gejala umumnya seperti itu, jadi perlu kepekaan dari orang tua. Pucat, itu bisa aja karena kurang zat besi, tapi ini pucatnya beda,” jelas Maria.

Gejala umum ini nanti akan diikuti gejala khusus yang tergantung pada organ yang dikenai serta lokasi dan penyebarannya. Maria mencontohkan kanker kelenjar getah bening atau limfoma.

Gejalanya adalah bagian kelenjar yang tersebar di leher, ketiak, dan selangkangan ini akan membesar dengan cepat tapi tidak ada tanda infeksi di daerah tersebut, misalnya di gigi dan telinga. Dengan mendeteksi gejala ini, orang tua dapat membedakan apakah anaknya mengalami radang kelenjar biasa atau itu adalah gejala kanker.

“Kalau radang biasa, ya ada infeksi dan membesarnya lama. Tapi kalau kanker, membesarnya secara cepat dan tidak ada tanda-tanda infeksi,” ujar Maria.

Pada kesempatan yang sama, Riyani, yang anaknya pernah menderita kanker limfoma mengatakan, pada awalnya, anaknya dideteksi menderita amandel biasa. Namun, setelah beberapa kali dirujuk ke beberapa rumah sakit, barulah ketahuan kalau anaknya mengidap kanker kelenjar getah bening.

“Waktu itu mulainya, anak saya batuk dan pilek tapi tidak kunjung sembuh, terus tidurnya ngorok. Padahal sebelum-sebelumnya nggak pernah. Berobat ke Puskesmas, katanya amandel kirinya radang, dikasih obat untuk satu minggu tapi ngoroknya nggak sembuh-sembuh juga bahkan tambah parah dan disertai sesak nafas,” papar Riyani, ibu dari Adi Hendrawan yang saat ini dinyatakan bebas dari kanker.

Untuk kanker yang paling sering dialami oleh anak, yaitu leukimia atau kanker darah, gejala yang perlu diwaspadai adalah pucat mendadak, perut membesar karena limfa dan hatinya membengkak, terjadi pendarahan yang tidak jelas penyebabnya seperti mimisan dan ruam biru pada kulit, serta nyeri sendi atau tulang.

Selain itu, untuk jenis kanker padat, gejalanya juga dapat dideteksi dengan timbulnya benjolan, meski tidak semua benjolan itu adalah kanker.

“Pikirkan kanker kalau melihat atau meraba benjolan pada tubuh anak. Tidak semua benjolan itu kanker. Lalu kalau meraba benjolan, langsung saja ke dokter. Jangan ditekan-tekan, nanti bisa menyebar, dari stadium 1 malah jadi stadium 2,” ujar Maria.